Catatan #39: Michael Jordan dan Masa Depan Sempurna



Sebagian besar alumni SMANSA 98 mungkin masih ingat saat NBA memasuki babak final. Kala itu, sekolah memberikan kesempatan langka bagi para siswa untuk menonton langsung pertandingan di perpustakaan.

Dulu, menyaksikan cuplikan atau tayangan ulang memang harus menunggu sampai malam hari, bahkan seminggu. Sensasi dan atmosfer menonton langsung babak final jelas menyajikan kesan yang jauh berbeda dibanding hanya menikmati siaran ulangnya.

Pihak sekolah sebenarnya ikut berbahagia dengan agenda ini. Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh para guru yang mengajar di jam pertama dan kedua, terutama ketika pertandingan berlangsung pada pagi hari Waktu Indonesia Barat. Hal yang lumrah, karena guru juga manusia biasa, hanya saja mereka lebih dewasa dalam menyikapi masa senggangnya.

Rata-rata siswa saat itu sangat menggemari Michael Jordan. Gerakan paling ikonik, “walking on the air” atau berjalan di udara, sukses membuat warga dunia tercengang.

Adegan melayang yang sebelumnya hanya mampu saya imajinasikan dalam cerita Wiro Sableng atau disaksikan lewat film-film kungfu, tiba-tiba menemukan bentuk nyatanya melalui kepiawaian Jordan di lapangan basket.

Para pebasket SMANSA tentu memendam harapan serupa, yaitu bisa meniru apa yang dilakukan oleh Jordan, yakni berjalan di udara. Lebih dari sekadar melayang, mereka juga bermimpi mampu melesakkan bola langsung ke dalam keranjang, sebuah aksi yang kita kenal sebagai slam dunk.

Seketika itu pula, demam basket meroket. Olahraga ini mendadak menjelma menjadi aktivitas yang paling digandrungi oleh siswa SMP dan SMA di Kota Sukabumi.

Secara pribadi, saya pun ikut larut menggemari Chicago Bulls yang merajai NBA pada musim 1995/96, 1996/97, dan 1997/98, sebuah era emas yang disebut sebagai masa three-peat.

Sangatlah lumrah jika banyak siswa yang menggemari Bulls saat itu. Sebab, masa kejayaan tim tersebut bertepatan dengan masa transisi dan kematangan para alumni SMANSA 98.

Bak gayung bersambut, antusiasme ini menular dengan cepat. Setali tiga uang dengan para atlet sekolah, siswa-siswa yang awalnya tidak bisa bermain basket pun pada akhirnya ikut turun ke lapangan. Paling tidak, mereka bertransformasi menjadi penggemar musiman, persis seperti saya kala itu.

Tentu tidak sembarangan untuk bisa menjadi pemain basket profesional; ada banyak hal penting yang wajib diperhatikan. Namun bagi para siswa saat itu, yang penting adalah turun ke lapangan. Urusan apakah postur tubuh mendukung atau tidak, itu menjadi perkara belakangan.

Lagi pula, kami bukan sedang dipersiapkan menjadi calon atlet. Targetnya sederhana, yang penting keluar keringat, atau bisa keluar dari kelas di jam pertama karena bermain basket terasa jauh lebih memikat.

Ini berarti, bagi sebagian siswa, olahraga menjelma menjadi jalan ninja atau pilihan terbaik daripada harus berjibaku sejak pagi buta dengan soal-soal matematika yang “melieurkan!”.

Jordan dan Chicago Bulls benar-benar menjadi tren besar saat itu. Dampaknya, sepatu tiruannya pun laku keras di pasaran. Seri Air Jordan yang dipakai sang legenda saat pertama kali bermain di klub profesional seketika menjelma menjadi dambaan para pemain basket tingkat sekolah.

Bahkan, sepatu yang saat itu harganya sangat mahal kerap dipakai hanya untuk sekadar "mejeng", jalan-jalan, hingga jalan santai. Bagi mereka yang paham, melihat sepatu berkualitas tersebut melintas tentu bisa membuat berdecak kagum.

Prinsip konsumen kala itu sederhana, yang penting mirip. Lagi pula, orang-orang tidak akan pernah tahu dan bagaimana mungkin mereka bisa membedakan apakah barang yang melekat di kaki itu asli atau tiruan? Sebab bagi kami saat itu, sepatu Air Jordan yang benar-benar asli tampaknya memang hanya dipakai oleh Michael Jordan sendiri.

Tak kalah dengan sepatu, jerseynya pun laku keras. Beberapa tahun sebelumnya, para remaja mungkin merasa canggung jika harus berjalan-jalan ke pusat keramaian mengenakan kaus basket karena potongan tanpa lengan yang memperlihatkan ketiak.

Namun, produsen jersey mampu memikat siapa pun melalui strategi dan inovasi desain. Mereka memproduksi jersey-jersey bergaya kasual, berupa kaus berlengan pendek maupun panjang. Di bagian dada, tersemat logo Bulls, sementara di punggung, tertera tulisan Jordan lengkap dengan angka 23.

Itulah keajaiban pasar. Efek domino dari tren ini tidak hanya membuat perusahaan raksasa dunia mengepulkan keuntungan besar, tetapi juga menghidupkan lapak para pedagang kecil di pinggir jalan.

Harus diakui, Michael Jordan dan para pemain NBA memang memiliki modal genetika yang ideal untuk bermain basket. Postur tubuh yang tinggi menjulang serta jangkauan tangan yang panjang membuat mereka berada di titik yang mendekati sempurna. Untuk memasukkan bola ke dalam keranjang di bawah ring, mereka bahkan hanya tinggal melompat sedikit saja. Itulah takdir para atlet profesional.

Artinya, kita tidak perlu membandingkan diri atau memaksakan suatu saat nanti harus mampu melakukan pembuktian ekstrem seperti yang diperlihatkan oleh Jordan. Bagi kita, cukup meniru-niru gerakannya saja sudah lebih dari cukup.

Sebab faktanya, para siswa yang turun ke lapangan saat itu hanya bertujuan untuk berolahraga, memenuhi nilai mata pelajaran Penjaskes, dan asal berkeringat mencari kesenangan.

Walakin, Jordan dan kawan-kawannya memang "mendekati sempurna" dalam urusan mengolah bola basket di dalam arena. Namun, dalam hal-hal lain di luar lapangan, tentu belum tentu demikian juga.

Dari sini, saya kira ada satu hal yang menarik. Kita sering melihat kehidupan orang lain dari bagian yang paling “silau”, lalu membayangkan seandainya hidup kita bisa seperti itu.

Kita melihat Jordan melayang di udara, para juara mengangkat trofi, orang-orang mengenakan sepatu yang sedang tren, lalu diam-diam membayangkan bahwa kehidupan yang ideal pasti berada di tempat yang jauh dari kehidupan kita sekarang.

Padahal, orang yang kita anggap memiliki kehidupan lebih baik bisa saja melihat kehidupan kita dengan cara yang sama. Ia mungkin menginginkan sesuatu yang justru kita miliki tanpa pernah kita sadari. Di sinilah keduniawian memperlihatkan sifatnya selalu ada jarak antara kehidupan yang dijalani dan kehidupan yang dibayangkan.

Sama halnya seperti kita ketika masih duduk di bangku SMA dulu. Kita selalu ingin segera melompat ke masa depan. Bahkan, sempat terlintas angan-angan memiliki mobil waktu buatan Profesor Emmett dalam film Back to the Future agar bisa berjalan-jalan menjelajahi setiap zaman.

Nyatanya, setelah kita benar-benar tumbuh dewasa dan menua, tiba-tiba saja kita justru ingin memutar balik arah waktu. Kita ingin kembali lagi ke masa kanak-kanak atau masa-masa SMA yang penuh dengan cita dan cinta.

Keinginan untuk melihat masa depan rupanya bukan hanya milik anak-anak SMA. Pada masa kejayaan Chicago Bulls, di sudut-sudut kehidupan selain perhelatan olahraga, tidak sedikit manusia yang menaruh harapan besar terhadap masa depan. Buku yang sempat melegenda seperti Megatrends 2000 dan Global Paradox karya John Naisbitt hadir menjadi pemantik.

Banyak orang ingin segera melompat ke masa depan, rindu menyaksikan dengan mata kepala sendiri apakah gambaran yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut benar-benar akan menemukan bentuknya.

Lalu waktu pun berjalan. Beberapa tahun setelah kami, para alumni SMANSA 98 lulus, tepatnya ketika memasuki tahun 2010, kita mulai merasakan perubahan yang dulu terasa seperti gambaran masa depan. Ledakan telekomunikasi mengguncang dunia, produksi ponsel pintar terjadi dalam skala masif, serta konsep high-tech, high-touch semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.

Pada masa itu, gagasan-gagasan Naisbitt memang tidak diterima dengan cara yang seragam. Sebagian kalangan akademik memandang karya-karyanya sebagai bentuk pop sociology yang terlalu sederhana untuk disebut sebagai analisis ilmiah yang ketat.

Kritik semacam itu tentu memiliki alasan, sebab buku-buku Naisbitt memang ditujukan kepada pembaca umum dan menggunakan bahasa yang jauh lebih populer dibandingkan karya-karya akademik.

Namun, perjalanan waktu memperlihatkan bahwa sejumlah gagasan yang dahulu dibaca sebagai ramalan populer kemudian terasa relevan ketika perubahan teknologi dan masyarakat benar-benar berlangsung.

Di sinilah menariknya membaca kembali buku-buku tentang masa depan, bukan semata-mata untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang keliru, melainkan untuk melihat bagaimana manusia pada suatu zaman mencoba membayangkan kehidupan yang belum mereka alami.

Nyatanya, buku-buku tentang masa depan beserta berbagai prediksinya mendadak menjadi tren besar sejak awal era 2000 hingga 2010-an. Mengapa buku-buku tersebut begitu digemari pembaca umum?

Jawabannya mungkin sederhana. Selain karena bahasanya mudah dicerna, manusia memang senang membayangkan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Ada semacam kenyamanan ketika kita percaya bahwa hari esok akan membawa sesuatu yang lebih menyenangkan daripada hari ini.

Persis seperti ketika kita menikmati pertandingan NBA. Kita tahu pertandingan itu hanya berlangsung beberapa jam, tetapi selama menontonnya kita dibawa masuk ke dunia yang penuh kemungkinan. Jordan bisa melompat lebih tinggi, bola bisa masuk pada detik terakhir, dan sebuah tim bisa mengubah keadaan dalam hitungan detik.

Mungkin karena itulah kita juga mudah terpikat oleh berbagai janji tentang masa depan. Silakan saja catat, sudah seberapa sering kita dikibuli oleh para politisi yang rajin mengumbar janji manis dan harapan-harapan indah tentang masa depan menjelang pemilu?

Namun, kita tetap saja percaya. Bukan karena manusia selalu bodoh dalam memilih harapan, melainkan karena harapan memang memiliki daya pikat yang sulit ditolak.
Kita selalu ingin percaya bahwa masa depan akan lebih baik.
Persoalannya, masa depan yang dulu kita bayangkan sebagai dunia sempurna ternyata tidak pernah benar-benar datang dalam bentuk yang sempurna.

Teknologi memang berkembang, komunikasi semakin cepat, informasi berada di genggaman, tetapi manusia tetap membawa persoalan yang sama, ingin lebih kaya, lebih sehat, lebih dihargai, lebih bahagia, dan lebih dekat dengan kehidupan yang dianggap ideal.

Dan lucunya, ketika semua itu perlahan datang, kita justru sering menoleh ke belakang. Kita membuka kembali foto lama. Mendengarkan lagu yang pernah diputar berulang-ulang. Mengingat lapangan basket sekolah. Mengingat teman-teman yang dulu setiap pagi datang dengan wajah mengantuk. Mengingat pertandingan NBA yang ditonton bersama di perpustakaan.

Michael Jordan mungkin pernah membuat kita ingin berjalan di udara. Buku-buku tentang masa depan pernah membuat kita ingin melompat ke zaman yang belum kita kenal. Tetapi setelah masa depan itu benar-benar tiba, kita malah ingin kembali.

Mungkin memang tidak ada yang namanya masa depan sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang terus bergerak dari satu masa ke masa lain, sambil membawa kenangan dari masa lalu dan harapan terhadap masa depan.

Jordan tetap menjadi Michael Jordan. Ia pernah melayang di udara dan membuat dunia terpesona.

Sedangkan kita?

Kita cukup pernah menjadi anak-anak SMANSA 1998 yang berlari ke lapangan basket, berharap bisa melakukan slam dunk, meskipun akhirnya bola hanya menyentuh papan pantul.

Dan mungkin, justru momen sederhana seperti itulah yang kelak kita sebut sebagai salah satu bentuk masa depan yang pernah kita tunggu-tunggu. Hanya saja, kita baru menyadarinya setelah masa itu berlalu.

Posting Komentar untuk "Catatan #39: Michael Jordan dan Masa Depan Sempurna"