Catatan #40: Kenakalan Masa SMA, Refleksi Hari Ini



Apakah semua anak manusia pernah melakukan kenakalan atau justru pernah menjadi korban kenakalan orang lain? Pertanyaan semacam ini mengandung ambivalensi. Di satu sisi, jika ada anak yang tidak pernah berbuat nakal, ungkapan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf seolah tidak berlaku baginya. Di sisi lain, jika setiap anak pernah melakukan kenakalan, bukankah hal itu bertentangan dengan teori tabula rasa yang memandang manusia lahir seperti kertas putih?

Pertanyaan tersebut tidak perlu membuat kita terjebak dalam perdebatan panjang antara bawaan lahir dan pengaruh lingkungan. Mari kita sederhanakan, misalnya begini; setiap anak memiliki kemungkinan melakukan kenakalan, tentu dengan kadar dan ukuran yang berbeda-beda. Sesuatu yang dianggap nakal oleh satu keluarga belum tentu dipandang sama oleh keluarga lain. Begitu pula kenakalan yang dilakukan seorang siswa tentu berbeda bobotnya dengan tindakan orang dewasa yang secara sadar merugikan masyarakat.

Bagi seorang gembong atau bajingan tengik, misalnya, merokok ketika masih duduk di bangku SMA mungkin bukan sesuatu yang patut dibanggakan, tetapi juga bukan perkara besar. Kenakalan itu tampak seujung kuku jika dibandingkan dengan tindakan koruptor yang menggerogoti sumber kehidupan bangsa, lalu tetap tersenyum dan memasang wajah saleh di hadapan publik. Keduanya memang sama-sama memperlihatkan pelanggaran terhadap aturan atau nilai yang berlaku, tetapi dampak, tanggung jawab, dan konsekuensinya jelas tidak dapat disamakan.

Saya dan teman-teman SMANSA angkatan 1998 pun tidak luput dari pengalaman semacam itu. Dengan beragam cita rasa, rupa, warna, tipikal pikiran, paradigma, latar belakang, dan pengalaman, kami pernah melakukan berbagai kenakalan selama duduk di bangku SMA. Ada yang ringan, ada yang membutuhkan sedikit kelihaian, dan ada juga yang jika diingat kembali seharusnya membuat kami lebih lama menundukkan kepala.

Agar lebih mudah memahami ragam kenakalan tersebut, saya mencoba meminjam cara kerja Carl Linnaeus dalam mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan. Tentu saja, kenakalan manusia tidak bisa disamakan begitu saja dengan klasifikasi makhluk hidup. Namun, analogi taksonomi dapat membantu kita mengelompokkan perilaku berdasarkan ciri, motif, serta dampak yang ditimbulkannya. Dari situlah lahir sebuah sistem klasifikasi sederhana, saya beri nama; Taksonomi Kenakalan SMANSA 98.

Kenakalan Ringan: Memanjat Pagar dan Menghindari Upacara

Kategori pertama adalah kenakalan ringan. Contohnya, kesiangan lalu terpaksa memanjat pagar beton di belakang sekolah. Dalam situasi semacam ini, seorang siswa biasanya sedang menghadapi pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan yaitu datang terlambat dan berhadapan dengan guru piket, atau mencari jalan pintas dengan mengandalkan kekuatan kaki dan keberanian.

Risikonya pun cukup konkret. Celana atau rok bisa robek, kulit lecet, bahkan tubuh terjerembap sebelum berhasil mencapai sisi pagar yang lain. Jika tertangkap guru, urusannya bisa berlanjut ke ruang Bimbingan Konseling (BK), ruangan yang dalam ingatan sebagian siswa terasa seperti ruang interogasi dalam film-film India.

Spesies berikutnya adalah para penghindar upacara bendera. Ketika siswa lain berdiri tegak di lapangan, menahan panas matahari sambil mendengarkan amanat pembina upacara, kelompok ini memilih berteduh atau jongkok di belakang sekolah. Mereka mengobrol, menunggu waktu berlalu, sekaligus menyusun strategi agar keberadaannya tidak terdeteksi guru.

Dalam bahasa taksonomi rekaan, keduanya dapat disebut sebagai Scandere Muri, si pemanjat pagar, dan Latibulilum Sollemnis, si penghindar upacara. Nama-nama tersebut tentu bukan istilah ilmiah resmi, melainkan permainan bahasa untuk membuat klasifikasi ini terasa lebih hidup.

Kenakalan ringan umumnya memiliki dampak terbatas, terutama terhadap pelakunya sendiri. Cara memperbaikinya pun relatif sederhana yaitu dengan mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, dan tidak mengulanginya. Waktu, kedewasaan, serta perubahan sikap sering membuat kesalahan semacam itu menjadi bagian dari cerita lama yang bisa dikenang sambil tertawa.

Kenakalan Sedang: Asap Rokok dan Manuver Kejujuran

Kategori kedua adalah kenakalan sedang. Pada tahap ini, persoalannya tidak lagi berhenti pada pelanggaran tata tertib sekolah. Ada kebohongan, manipulasi, dan kemungkinan kerugian bagi orang lain, terutama orangtua yang telah memberikan kepercayaan kepada anaknya.

Contoh paling umum adalah merokok. Di luar rumah, seorang siswa bisa tampil sebagai perokok yang cukup berpengalaman. Namun, begitu memasuki pintu rumah, ia mengalami metamorfosis mendadak menjadi anak yang santun, pendiam, dan tampak tidak pernah bersentuhan dengan asap tembakau. Permen karet, wewangian, dan cuci tangan menjadi bagian dari sistem pertahanan untuk menyamarkan jejak.

Spesies ini dapat diberi nama Fumare Chameleonis, perokok berkedok bunglon. Ia bukan hanya belajar mengisap rokok, melainkan juga belajar mengatur penampilan agar perilakunya tidak diketahui orangtua. Kenakalannya mulai bersentuhan dengan persoalan kejujuran.

Ada pula kelompok yang menggunakan uang SPP atau iuran bulanan untuk membeli rokok, bermain biliar, atau bolos sekolah demi piknik ke Capitol, Nasional, dan Shopping Center. Uang yang semestinya diserahkan kepada sekolah dialihkan untuk membiayai kesenangan pribadi. Dalam klasifikasi rekaan ini, mereka masuk kelompok Parasitus Pecuniae, para penyalahguna uang kepercayaan.

Kenakalan serupa terjadi ketika izin salat Zuhur berubah menjadi kesempatan nongkrong di warung sekitar sekolah. Waktu yang semestinya hanya lima sampai tujuh menit bisa molor menjadi satu jam, dari pukul 12.00 hingga 13.00. Masjid dan izin beribadah menjadi semacam pintu keluar dari rutinitas belajar, meskipun alasan awalnya terdengar mulia.

Kelompok ini bisa disebut Orationis Dilatatio, pewaris ekstensi waktu salat. Tentu, yang menjadi persoalan bukan ibadahnya, melainkan penyalahgunaan izinnya. Mereka mulai memahami bahwa sebuah alasan dapat digunakan untuk membuka kesempatan, bahkan ketika alasan itu tidak sesuai dengan apa yang benar-benar dilakukan.

Kenakalan sedang memperlihatkan perubahan penting. Jika kenakalan ringan cenderung berupa pelanggaran spontan, kategori ini mulai melibatkan kemampuan menyusun alasan dan menyembunyikan tindakan. Kecerdikan yang seharusnya dapat digunakan untuk hal produktif justru dipakai untuk mengakali orangtua, guru, atau aturan sekolah.

Kenakalan Besar: Darmaji, Memalak, dan Mengintimidasi

Kategori ketiga adalah kenakalan besar. Saya tidak menyebutnya dosa besar, tetapi dampaknya sudah menyentuh hak orang lain, merugikan secara langsung, dan berpotensi membentuk karakter yang buruk jika terus dibiarkan.

Salah satu contohnya adalah praktik darmaji, singkatan dari dahar lima ngaku hiji. Seorang siswa mengambil lima gorengan, tetapi ketika membayar hanya mengaku membeli satu. Selisih empat gorengan mungkin tampak kecil bagi pelakunya. Namun, bagi penjaga kantin yang mengandalkan keuntungan sedikit demi sedikit, tindakan itu tetap merupakan kerugian.

Dalam taksonomi SMANSA 98, spesies ini dapat disebut Kantinensis Darmaji. Ia memiliki kemampuan menghitung, tetapi perhitungannya digunakan untuk mengurangi hak orang lain. Kecerdikan yang mestinya membantu seseorang bertahan dalam pelajaran matematika justru dipakai untuk mengakali penjaga kantin.

Lebih jauh, ada siswa yang memalak teman atau mengintimidasi adik kelas. Mereka memanfaatkan kekuatan fisik, pengaruh kelompok, atau status sebagai siswa yang lebih senior untuk menekan orang lain. Uang jajan, barang, dan rasa aman menjadi sesuatu yang dirampas melalui ancaman atau rasa takut.

Kelompok pemalak dapat disebut Extortio Sodalis, sedangkan pengintimidasi adik kelas masuk kategori Intimidatio Junioris. Keduanya memperlihatkan bentuk kenakalan yang berbeda dari sekadar terlambat atau membolos. Ada korban yang kehilangan sesuatu, ada hak yang dilanggar, dan ada relasi kuasa yang digunakan untuk keuntungan sepihak.

Pada kategori ini, meminta maaf saja belum tentu cukup jika kerugian yang ditimbulkan belum diperbaiki. Pelaku perlu mengakui perbuatannya, mengembalikan apa yang diambil, serta meminta maaf kepada orang yang dirugikan. Jika penjaga kantin kehilangan uang akibat praktik darmaji, kerugian itu perlu diganti. Jika seorang teman pernah dipalak, pelaku perlu berani menghadapinya dan mengakui kesalahan.

Dengan kata lain, tanggung jawab moral tidak berhenti pada hubungan seseorang dengan Tuhan atau penyesalan dalam hati. Ada tanggung jawab terhadap sesama manusia yang harus diselesaikan. Kesalahan yang merugikan orang lain menuntut pemulihan yang nyata, bukan sekadar perasaan bersalah.

Spesies Lain dalam Ekosistem Sekolah

Tiga kategori tersebut belum mencakup seluruh kenakalan yang pernah mewarnai masa SMA kami. Ada yang menyontek, berpura-pura sakit agar bisa pulang, bermain basket saat jam pelajaran, atau menjadikan masjid sebagai tempat berlindung ketika terlambat dan ditegur guru.

Ada pula yang memberikan sogokan kecil kepada guru demi memperoleh nilai atau menghindari hukuman. Dalam bahasa klasifikasi rekaan, tindakan ini bisa dimasukkan ke kelompok Opportunitis Academicus, yakni perilaku yang memanfaatkan celah sistem untuk keuntungan pribadi.

Di luar urusan akademik, ada kelompok yang menyanyi keras-keras ketika guru tidak masuk kelas, mempergunjingkan guru, atau melempar celana teman ke taman sekolah. Keusilan seperti itu sering dianggap sebagai bagian dari kegembiraan masa remaja. Namun, jika dilihat dari sisi orang yang menjadi sasaran, tidak semuanya pantas dianggap lucu.

Batasnya semakin jelas ketika keusilan menyentuh privasi dan kehormatan seseorang. Mengintip siswi di toilet, misalnya, bukan sekadar tindakan usil, melainkan pelanggaran serius terhadap privasi. Begitu pula memukul pantat teman perempuan. Tindakan tersebut melanggar batas tubuh orang lain dan dalam pemahaman sekarang dapat dikategorikan sebagai pelecehan.

Maka, tidak semua kenakalan layak dikenang dengan tawa yang sama. Ada yang cukup menjadi cerita tentang kebodohan masa muda, tetapi ada pula yang perlu diakui sebagai tindakan yang menyakiti orang lain. Kedewasaan justru terlihat ketika kita mampu membedakan keduanya, bukan ketika kita berusaha membungkus seluruh masa lalu dengan alasan bahwa semua itu hanya kenakalan remaja.

Dari Taksonomi Kenakalan ke Cermin Kehidupan

Klasifikasi ini bukan alat untuk menghakimi siapa yang paling nakal di antara alumni SMANSA 98. Tidak pula dimaksudkan untuk menentukan bahwa seseorang yang pernah membolos pasti akan tumbuh menjadi orang yang buruk. Perilaku manusia dibentuk oleh banyak hal, termasuk lingkungan, pendidikan, pengalaman, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan.

Walakin, ada satu hal yang patut direnungkan. Kenakalan yang dibiarkan tanpa koreksi dapat menjadi kebiasaan, sementara kebiasaan yang terus dipelihara berpotensi membentuk karakter. Seseorang yang terbiasa mengambil hak orang lain, memanipulasi kepercayaan, atau menggunakan kekuasaan untuk menekan pihak yang lebih lemah perlu belajar menghentikan perilaku itu sebelum dampaknya meluas.

Tentu, siswa yang merokok atau bolos tidak dapat begitu saja disamakan dengan koruptor. Perbedaan usia, kesadaran, tanggung jawab, dan dampak perbuatan harus tetap diperhitungkan. Namun, keduanya dapat menjadi bahan refleksi tentang bagaimana seseorang memperlakukan aturan, kepercayaan, serta hak orang lain.

Korupsi bukan kenakalan remaja yang tumbuh secara otomatis menjadi kejahatan orang dewasa. Ia merupakan tindakan serius yang melibatkan penyalahgunaan kewenangan dan menimbulkan kerugian publik. Meskipun demikian, kecenderungan untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang lain patut diwaspadai sejak dini, apa pun bentuk awalnya.

Kini, sebagian dari kami telah menjadi orang tua. Sebagian lainnya menjadi guru, pegawai, pengusaha, atau menjalani profesi yang berbeda-beda. Kami tidak lagi berdiri di lapangan sekolah untuk menghindari upacara, tidak lagi mencari celah pagar ketika terlambat, dan tidak lagi menghabiskan waktu di warung dengan dalih izin salat. Setidaknya, semua itu telah menjadi bagian dari masa lalu yang seharusnya memberi pelajaran.

Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menghadirkan kembali masa lalu. Kadang-kadang, kita melihat anak sendiri melakukan hal yang dahulu pernah kita lakukan. Seorang anak terlambat bangun, membantah nasihat, mencari alasan untuk menghindari tugas, atau pulang dengan cerita yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan. Bagi mereka yang berprofesi sebagai guru, cermin itu mungkin hadir melalui tingkah laku murid-murid di kelas.

Dalam situasi seperti itu, kita seperti sedang melihat rekaman masa SMA sendiri. Kita ingin marah, tetapi ingatan tentang kenakalan masa lalu membuat kita berpikir dua kali. Kita tahu bahwa nasihat yang sekarang kita berikan kepada anak atau murid mungkin pernah kita abaikan ketika seusia mereka.

Kesadaran itu bukan alasan untuk membiarkan semua kenakalan. Justru pengalaman masa lalu dapat membantu kita menentukan kapan harus memaklumi kekeliruan yang wajar dalam proses tumbuh, kapan harus memberikan teguran, dan kapan harus bertindak tegas karena perilaku seseorang telah merugikan atau melanggar hak orang lain.

Kita memang tidak bisa kembali ke masa SMA untuk memanjat pagar beton sekali lagi, mengembalikan waktu yang terbuang di warung, atau menghapus seluruh kesalahan yang pernah dilakukan. Akan tetapi, kita masih bisa memperbaiki cara memperlakukan orang lain hari ini. Jika ada hak yang pernah kita ambil, kita dapat berusaha memulihkannya. Jika pernah menyakiti seseorang, kita masih bisa meminta maaf. Jika dahulu gagal memahami batas, kita dapat mengajarkan batas itu kepada generasi berikutnya.

Klasifikasi Kenakalan Alumni SMANSA 98 bukan hanya cerita tentang siswa yang pernah melanggar tata tertib sekolah. Ia adalah catatan tentang proses belajar menjadi manusia. Ada kesalahan yang membuat kita tertawa ketika mengenangnya, ada yang membuat kita malu, dan ada pula yang seharusnya tetap kita sesali karena pernah merugikan orang lain.

Dulu, kami mungkin menganggap pagar beton, warung dekat masjid, kantin, dan ruang BK sebagai bagian dari ekosistem kenakalan. Hari ini, setelah berkeluarga dan menjalani kehidupan masing-masing, tempat-tempat itu berubah menjadi cermin. Kami tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi dapat menentukan apa yang hendak kami wariskan.

Saya pikir, itulah gunanya mengenang masa SMA, bukan untuk membanggakan kenakalan, apalagi menganggap semua pelanggaran sebagai hal yang lumrah, melainkan untuk menyadari bahwa kedewasaan menuntut keberanian mengakui kesalahan. Kertas kehidupan yang dahulu penuh coretan tidak perlu disobek atau disembunyikan. Ia dapat dibaca kembali, dipahami, lalu dijadikan pelajaran agar anak-anak kita tidak harus terluka di tempat yang sama dengan tempat kita pernah terjatuh.

Posting Komentar untuk "Catatan #40: Kenakalan Masa SMA, Refleksi Hari Ini"