
Patologi masa remaja sering dikaitkan dengan kenakalan remaja. Stigma ini seolah-olah sengaja dikembangkan dalam kajian psikologi perkembangan manusia, bahwa masa remaja memang lazim bersentuhan dengan terma “nakal”.
Lebih jauh lagi, muncul pandangan bahwa kenakalan pada masa remaja merupakan hal yang lumrah. Padahal, perilaku semacam ini tidak serta-merta hanya dialami manusia pada satu tahap kehidupan.
Di setiap usia, mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan usia senja, selalu ada saja perilaku yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Bahkan pada usia lanjut pun kita masih sering menjumpai tindakan-tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat.
Oleh para ahli sosial, kenakalan remaja biasanya disegmentasikan ke dalam berbagai bentuk perilaku yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan maupun melalui jalur hukum.
Tawuran, perkelahian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, hingga tindakan kriminal merupakan beberapa bentuk yang kerap dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Perkelahian remaja, misalnya, bagi sebagian remaja sendiri dapat dipandang sebagai cara sederhana untuk menyelesaikan konflik secara adat.
Apalagi jika dilakukan dalam bentuk duel, satu lawan satu. Kendati disebut sebagai kenakalan, bagi remaja yang terlibat di dalamnya, perkelahian satu lawan satu justru dapat dianggap sebagai bentuk tertinggi untuk menegakkan marwah dan menunjukkan jati diri.
Kenakalan remaja tidak mengenal latar belakang. Entah remaja kampung atau kota, tidak bersekolah atau berpendidikan, ketika harga diri dianggap mesti ditegakkan, muncul semacam anggapan kamuflatif bahwa mereka harus siap bertempur habis-habisan sampai benar-benar kalah dan menyerah atau keluar sebagai pemenang.
Walakin, prinsipnya tetap sama. Pertempuran atau duel dengan alasan-alasan semacam itu sama sekali tidak benar-benar meningkatkan harkat dan martabat seorang remaja.
Sebab, tidak ada yang benar-benar menjadi jagoan dalam hidup ini. Seseorang yang memenangkan duel tetap dikenal sebagai remaja biasa oleh lingkungannya. Ia tidak akan menerima penghargaan apa pun. Adagium bahwa kalah dan menang tetap menjadi arang ada benarnya.
Remaja terpelajar seperti para siswa SMANSA angkatan 98 pun pernah mengalami fase krusial semacam ini. Ada di antara mereka yang bertarung dan berduel hanya untuk menunjukkan marwah gang atau kelompoknya.
Tempat pertarungan secara “jantan” dalam versi mereka ada dua: Lembah Putus Cinta di belakang sekolah atau Kerkhof. Tidak ada pertarungan liar semacam itu yang dilakukan di atas ring atau arena resmi.
Itulah salah satu alasan mengapa perkelahian pelajar dikategorikan sebagai bentuk kenakalan jika dibandingkan dengan pertarungan di arena resmi yang diberi judul pertandingan.
Saya memiliki alasan untuk menjaga privasi teman-teman yang pernah melakukan pertarungan duel dengan tidak menyebutkan nama-nama mereka.
Saya memiliki alasan untuk menjaga privasi teman-teman yang pernah melakukan pertarungan duel dengan tidak menyebutkan nama-nama mereka.
Yang jelas, seperti yang digagas oleh para ahli sosial, perkelahian pada masa remaja merupakan salah satu bentuk penegakan nilai yang oleh pelakunya dianggap sebagai upaya mempertahankan “marwah” atau harga diri.
Kendati demikian, sebenarnya banyak cara yang dapat dipilih para remaja untuk menegakkan harga diri. Menjadi pelajar teladan, aktif dalam berbagai kegiatan, mengikuti lomba dan olimpiade, atau bahkan tidak perlu mencari-cari cara untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki harga diri.
Sebab, pada dasarnya, harga diri manusia tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dikerjakannya, melainkan oleh pengakuan semesta bahwa manusia telah mengenal tugas dan perannya.
Kendati demikian, sebenarnya banyak cara yang dapat dipilih para remaja untuk menegakkan harga diri. Menjadi pelajar teladan, aktif dalam berbagai kegiatan, mengikuti lomba dan olimpiade, atau bahkan tidak perlu mencari-cari cara untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki harga diri.
Sebab, pada dasarnya, harga diri manusia tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dikerjakannya, melainkan oleh pengakuan semesta bahwa manusia telah mengenal tugas dan perannya.
Sejauh ini, mungkin masih banyak di antara kita yang belum benar-benar mengenal tugas, peran, dan keberadaan kita dalam kehidupan ini.
Apalagi di lingkungan yang waras, perkelahian liar tidak akan pernah diakui sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan dan menuntaskan masalah.
Apalagi di lingkungan yang waras, perkelahian liar tidak akan pernah diakui sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan dan menuntaskan masalah.
Lingkungan yang waras lebih membutuhkan cara yang logis dan masuk akal daripada mengedepankan emosi yang meledak-ledak, yang pada akhirnya hanya akan membawa kerugian bagi diri sendiri.
Posting Komentar untuk "Catatan #38: Duel di Lembah Putus Cinta atau Kerkhof?"