Akhir tahun 1990-an dapat dikatakan sebagai masa transisi bagi Generasi X dan Y. Sementara itu, bagi generasi Baby Boomers, periode ini menjadi transisi usia ketika mereka mulai mendekati batas tertinggi dalam grafik angka harapan hidup.
Masa transisi global ini ditandai oleh fenomena yang sejalan dengan tesis Samuel Huntington, yaitu Clash of Civilizations (benturan peradaban). Runtuhnya komunisme di Blok Timur justru melahirkan apa yang disebut oleh para pengamat sebagai kebangkitan westernisasi.
Huntington tidak lagi menyoal pertikaian ideologi konvensional antara Timur dan Barat, melainkan mengajukan tesis yang sebenarnya menyasar liberalisme, khususnya kapitalisme. Keruntuhan komunisme membuat kapitalisme melenggang bebas menguasai dunia yang sedang berada di masa transisi, di mana pada saat yang sama, Asia sedang dihantam badai krisis moneter.
Namun, kapitalisme tidak akan menjadi ideologi yang kuat tanpa adanya rivalitas; ia tetap membutuhkan pesaing agar ekosistemnya tetap hidup. Jika dibiarkan sendirian tanpa lawan, kapitalisme perlahan akan rapuh dan keropos dari dalam.
Melalui tesisnya, Huntington hadir menyanggah gagasan Francis Fukuyama dengan menegaskan bahwa konflik dunia belum selesai, melainkan hanya bergeser dari konflik ideologi (Barat vs Komunisme) menjadi benturan budaya dan peradaban.
Bagi dunia Timur, terutama di Indonesia dan negara-negara dengan mayoritas muslim, kapitalisme yang membawa muatan liberalisme menjadi hal yang mengerikan. Gerakan kebebasan yang diusungnya dikhawatirkan akan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan Timur yang dikenal santun.
Sepanjang dekade 1990-an, gagasan perlawanan terhadap kapitalisme dan liberalisme pun mulai digaungkan oleh para aktivis kampus dan sekolah di perkotaan. Westernisasi atau proses pemaksaan budaya Barat ke dalam diri para remaja menjadi wacana yang terus dijadikan kode keras sebagai tanda peringatan.
Jika generasi muda dibiarkan bersentuhan dengan Barat yang liberal, dikhawatirkan akan muncul sikap permisif terhadap perilaku yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam dunia Timur.
Di sisi lain, ada gagasan penting selama masa transisi di akhir tahun 1990-an, yaitu tentang kebangkitan Islam. Barat memandang devosi semacam ini sebagai kemunculan benih-benih radikalisme, kendati pandangan tersebut terlalu dipaksakan dan berstandar ganda.
Barat tetap melihat isu kebangkitan Islam sebagai duri penghalang bagi hegemoni mereka. Walakin, pada kenyatannya, Barat tetap membangun hubungan baik dengan negara-negara Timur Tengah mutlak demi mengamankan kepentingan ekonomi dan sumber energi mereka di sana.
Di kalangan muslim perkotaan, muncul gagasan alternatif yang dipandang sebagai jawaban atas persinggungan antara Barat dan Islam. Berbagai kajian keagamaan marak diselenggarakan, beriringan dengan gemerlap pembangunan pusat-pusat perbelanjaan sebagai fondasi kokoh kapitalisme.
Setiap Ramadan, sekolah-sekolah menyelenggarakan Pesantren Kilat. Para siswa dengan berbagai latar belakang pemikiran keagamaan mengadakan pertemuan rutin, masjid-masjid sekolah menjadi lebih semarak setiap waktu salat tiba, dan para siswi mulai bebas mengenakan jilbab yang sebelumnya sempat dilarang oleh pemerintah pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an. Di bidang seni, fenomena ini ditandai dengan munculnya aliran musik religi yang dikenal sebagai "Nasyid".
Berbagai kelompok nasyid bermunculan membawakan lagu-lagu dengan nuansa religi. Fenomena ini berjalan berbanding lurus dengan kebangkitan genre musik alternatif lewat kehadiran berbagai band yang begitu ingar-bingar dalam menggairahkan gejolak masa remaja. Situasi inilah yang menjadi salah satu alasan di SMANSA muncul kelompok nasyid bernama RMBU Voice. RMBU sendiri merupakan akronim dari Remaja Mesjid Bahrul Ulum.
Atas dasar etika keagamaan, kelompok dengan konsep acapella ini hanya beranggotakan siswa laki-laki. Dalam diskursus keislaman, memang terdapat pandangan bahwa suara perempuan dikategorikan sebagai aurat. Namun, bagi RMBU Voice dan sebagian besar kelompok nasyid kala itu, prinsip kehati-hatianlah yang menjadi alasan utama mengapa anggotanya homogen, tanpa harus selalu dimaknai secara pejoratif sebagai bentuk patriarki.
RMBU Voice tetap berdiri sejajar dengan band-band sekolah yang ada saat itu, bahkan selalu ikut tampil di acara "Gelar Seni" tahunan. Selaras dengan grup musik dari genre apa pun, mereka naik ke atas panggung untuk menyampaikan pesan tertentu melalui media seni.
Perbedaannya, RMBU Voice mengemas pesan-pesan tersebut lewat lirik religius agar lebih mudah diterima oleh audiens sebayanya. Faktanya, kendati ada sebagian pihak yang memandang masa remaja sebaiknya dihabiskan dengan semangat "duniawi", toh tidak sedikit siswa-siswi SMANSA yang justru menjadi penggemar setia RMBU Voice.
Keheterogenan pemikiran dan gaya remaja saat itu tidak perlu ditafsirkan dalam sekat hitam-putih antara hak dan batil, atau protagonis dan antagonis. Masa remaja yang dialami oleh para siswa, entah mereka dikategorikan sebagai anak nakal, cimpeul, baik, atau sebutan lainnya, hanya merupakan dinamika warna dalam fase pertumbuhan.
Mereka yang tampil urakan saat melakukan moshing mengikuti hentakan musik hardcore tidak serta-merta harus dipandang sebagai remaja dengan masa depan suram (Madesu). Begitu pula sebaliknya dengan para siswa yang terlihat pendiam dan religius. Kesemuanya pada hakikatnya merupakan perpaduan warna kehidupan yang dikoreografi dengan indah oleh Sang Mahamaestro, Allah SWT.
Sudah saatnya kita benar-benar keluar dari polarisasi, seperti penggalan lirik nasyid yang dilantunkan oleh RMBU Voice: "Dengarlah, kicau burung-burung bernyanyi, menyambut mentari pagi, indah dan berseri." Pesan ini mengisyaratkan bahwa kita harus berani keluar dari sangkar emas yang selama ini memenjarakan pikiran dalam delusi bahwa kelompok kitalah yang paling hebat, paling benar, atau paling unggul.
Bersikaplah seperti burung-burung yang merdeka dalam menatap semesta, yang memandang dunia sebagai ruang kehidupan bersama, bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan.
Sebab, saya selalu meyakini bahwa apa pun yang ada di dunia, kendati disebut sebagai sebuah kebaikan, akan selalu bernegosiasi dengan hal-hal lainnya.
Contohnya dapat kita lihat pada RMBU Voice yang berhasil memadukan lirik bercorak keislaman dengan acapella. Negosiasi tersebut mampu mengemas pesan transendental menjadi produk kultural yang dapat kita dengar dan nikmati hingga sekarang.
Posting Komentar untuk "Catatan #37: RMBU Voice"