Catatan #35: Lomba Lintas Lembah dan Bukit


Gunung Arca

Menulis catatan selama duduk di bangku SMA seolah tidak pernah ada habisnya. Kalimat ini sebenarnya terlalu hiperbolik. Sebab, jika dalam satu bulan rata-rata terdapat 26 hari belajar aktif, selama tiga tahun kita hanya memiliki sekitar 900 hari. Jadi selama tiga tahun, kita dapat menghasilkan catatan tidak lebih dari itu, dengan asumsi setiap hari kita menulis satu catatan ke dalam buku harian.

Walakin, seperti halnya sejarah, catatan dalam kehidupan manusia ternyata tidak seramai kehidupan itu sendiri. Otak manusia memiliki keterbatasan dalam merespons berbagai peristiwa. Hanya peristiwa tertentu yang mampu melewati saringan atensi, masuk ke dalam ruang penyimpanan ingatan, lalu bertahan sebagai memori penting selama bertahun-tahun. Karena itu, tidak setiap hari menghadirkan momentum yang secara otomatis dianggap penting oleh pikiran dan kemudian disimpan sebagai kenangan.

Saya, misalnya, selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi cukup rajin menulis catatan harian. Dalam satu minggu, saya bisa menghasilkan tiga hingga lima artikel dengan panjang satu sampai dua halaman. Saat itu saya memahami bahwa mencatat peristiwa yang dilihat, menafsirkan kejadian, kemudian mencari hubungan sebab-akibat di dalamnya merupakan latihan untuk mempertajam cara manusia membaca kehidupan.

Namun, seberapa penting pun sebuah catatan bagi pemiliknya, ada kalanya ia lenyap melalui peristiwa yang tidak pernah kita perkirakan. Buku-buku itu bisa hilang karena kecerobohan, berpindah tangan (dijual kiloan), atau pada suatu masa dianggap sebagai benda lama yang tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupan sekarang.

Bisa juga terjadi ketika seseorang telah membangun kehidupan baru dan pasangan memandang buku-buku masa lalu sebagai sesuatu yang sebaiknya disimpan jauh-jauh. Dalam keadaan seperti itu, orang seperti saya mesti belajar mematuhi kesepakatan bersama agar beberapa jilid buku tidak berubah menjadi sumber kecurigaan.

Untungnya, manusia memiliki cara lain untuk menyimpan masa lalu. Kendati buku-buku tersebut sudah tidak ada, berkas pengalaman ketika masih duduk di bangku SMA ternyata tetap tersimpan di dalam ingatan. Ia tidak benar-benar lenyap. Kita hanya perlu menemukan jalan untuk mengaksesnya kembali.

Biasanya, ingatan semacam itu muncul ketika bertemu dengan pemantik seperti nama seseorang, tempat tertentu, sebuah aroma, foto lama, atau percakapan yang tiba-tiba membawa kita kembali ke masa yang telah lewat. Catatan ke-35 ini, misalnya, muncul dari satu pemantik bernama Lomba Lintas Lembah dan Bukit atau L3B.

L3B merupakan kegiatan tahunan yang diinisiasi oleh Stey’r, salah satu ekstrakurikuler yang menaruh perhatian pada kecintaan siswa terhadap alam. Saya mengikuti L3B secara beregu ketika duduk di kelas dua. Keikutsertaan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ada rasa solidaritas terhadap beberapa teman satu kelas; Iponk, Arif, Zaut, Bembem, Rudi Koko, dan Akif yang aktif di ekskul Stey’r.

Di sisi lain, muncul juga rasa ingin mencoba. Apa salahnya mengikuti sebuah kegiatan yang mengajak peserta berjalan jauh, melewati medan yang kasar, naik turun bukit, menyeberangi sungai, dan berhadapan langsung dengan alam? Sebagai sapiens, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencari pengalaman dan menghadapi tantangan.

Jika ditarik lebih jauh ke masa sebelumnya, ketika duduk di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, saya pernah memperoleh pengetahuan tentang Lomba Cross Country dalam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Saat itu istilah tersebut terasa cukup asing karena belum pernah benar-benar kami praktikkan.

Yang kami pahami, cross country berkaitan dengan kegiatan berjalan atau berlari melewati medan alam yang mendaki, melintasi perbukitan, menuruni lereng, melewati jalan tanah, hingga berkubang di wilayah berlumpur. Pengetahuan yang tersimpan sejak SMP itu rupanya menemukan bentuknya ketika saya mengikuti L3B di SMA.

Bagi saya, L3B merupakan salah satu kegiatan ikonik SMANSA pada masa itu, di samping ada “Gelar Seni” dan “Bulan Prestasi”. Pesertanya datang dari berbagai sekolah. Dari sisi penyelenggaraan, kegiatan tersebut juga memperlihatkan kesibukan teman-teman Stey’r yang bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya.

Posko komando didirikan, handy transceiver (HT) digunakan sebagai sarana komunikasi antarpanitia, jalur peserta diatur, dan berbagai titik pengawasan disiapkan. Setelah seluruh persiapan selesai, peserta pun diberangkatkan menyusuri rute yang telah ditentukan.

Kontur alam di perbatasan Kota dan Kabupaten Sukabumi bagian selatan memang cocok untuk kegiatan seperti ini. Rutenya melewati Lamping, Ciwaringin, Tespong, Cicadas, kemudian menyeberangi Cimandiri yang saat itu masih berupa rawayan, jembatan sederhana dari bambu, lalu menuju Cipeueut, Gunung Arca, Bangbayang, Cikundul, Pasirpogor, Balandongan, Lio, Kerkhof, Gedongpanjang, dan kembali ke SMA Negeri 1. Saya sendiri cukup mengenal jalur tersebut karena berasal dari salah satu kampung yang dilewati peserta.

Dengan jarak sekitar 12-14 kilometer dan elevasi medan yang cukup menantang, perjalanan dapat menghabiskan waktu antara 3,5 hingga 5 jam. Kami berangkat sekitar pukul 08.00 WIB dan diperkirakan tiba di sekolah sekitar pukul 13.00 WIB.

Kenyataannya, menjelajah alam membutuhkan waktu lebih panjang dari perkiraan. Jalur yang kami lewati terdiri atas jalan kampung berbatu, pematang sawah, turunan lembah, penyeberangan Sungai Cimandiri, hingga tanjakan terjal di kawasan Gunung Arca dan Bangbayang.

Cuaca pun ikut menentukan perjalanan. Hujan turun cukup deras. Karena sejak awal kami tidak memasang target untuk keluar sebagai pemenang, kami jalani dengan santai. Ketika hujan turun, kami berteduh. Setelah itu kami makan nasi timbel. Karena pakaian sudah kotor dan basah, saya dan teman-teman bahkan sempat mandi di kolam nenek di Balandongan.

Bagi atlet cross country, mungkin kisah tersebut terdengar lucu atau “membagongkan”, bagaimana mungkin dalam sebuah lomba lintas alam peserta masih sempat makan dan mandi? Bagi kami waktu itu, lomba memang terasa seperti perjalanan bersama teman-teman. Medan yang berat justru menjadi bagian dari kesenangan.

L3B tahun 1997 menjadi bagian dari perjalanan hidup yang selalu menarik ketika dikenang. Pada tahun itu, kawasan Tespong, Cicadas, Gunung Arca, hingga Bangbayang masih berupa bentangan alam yang hijau. Pematang sawah terbentang luas, rumpun bambu tumbuh lebat, pepohonan menaungi jalan setapak, sementara tanah merah menjadi permukaan jalan yang kami pijak. Sebagian kawasan yang sekarang telah dipenuhi bangunan dan jalan beraspal kala itu masih menghadirkan suasana perdesaan yang kuat. Udara Sukabumi bagian selatan pun terasa sejuk, terutama pada pagi hari.

Dalam pandangan saya, L3B adalah sebuah perjalanan melintasi jalur legendaris dari lingkungan urban SMANSA menuju kawasan alam Kota Sukabumi bagian selatan. Ada jarak belasan kilometer yang harus ditempuh, tetapi yang tertinggal dalam ingatan justru detail-detail kecil sepanjang perjalanan tingkah para peserta ketika kelelahan, hujan yang turun di tengah rute, jembatan bambu di atas Cimandiri, nasi timbel yang dimakan setelah berteduh, sampai kolam tempat kami membersihkan tubuh di Balandongan.

Waktu terus berjalan dan lanskap pun berubah. Sawah menyempit, jalan diperlebar, rumah-rumah dibangun, dan sebagian jalur lama mungkin sudah sulit dikenali. Namun, sebuah perjalanan yang pernah dilakukan dengan penuh kesadaran akan selalu memiliki cara untuk kembali. Ia muncul ketika sebuah nama disebut, ketika melewati sebuah tempat, atau ketika ingatan menemukan pemantik yang tepat.

L3B, bagi saya, adalah salah satu pemantik itu,sebuah pintu kecil yang membawa kembali suasana tahun 1997, ketika beberapa anak SMA berjalan melintasi lembah dan bukit sambil melantunkan yel-yel, semangat petualangan, persahabatan, dan sedikit keberanian untuk menikmati dunia yang terbentang di hadapan mereka.

Posting Komentar untuk "Catatan #35: Lomba Lintas Lembah dan Bukit"