
Jika di perguruan tinggi mahasiswa program sarjana diwajibkan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), para siswa sekolah menengah atas pada era 1990-an juga memiliki kegiatan yang tidak kalah penting, yaitu Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan mempertemukan pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas dengan kenyataan yang dijumpai di lapangan.
Melalui PKL, teori tidak lagi berhenti sebagai kumpulan konsep di dalam buku, melainkan diuji melalui pengamatan langsung terhadap objek yang menjadi bidang kajian masing-masing. Bagi siswa jurusan IPA, objek tersebut lebih banyak berkaitan dengan alam dan lingkungannya. Sementara bagi siswa jurusan IPS, masyarakat beserta kehidupan sosialnya menjadi laboratorium yang sesungguhnya.
Berbeda dengan siswa SMA, peserta didik SMK pada masa itu lebih mengenal Pendidikan Sistem Ganda (PSG) atau Praktik Kerja Industri (Prakerin). Program tersebut memang dirancang agar para siswa memperoleh pengalaman bekerja secara langsung di perusahaan atau lembaga yang sesuai dengan kompetensi keahliannya.
Durasi pelaksanaannya pun jauh lebih panjang, dapat mencapai empat hingga enam bulan. Sementara itu, PKL bagi siswa SMA umumnya berlangsung sekitar tiga hingga lima hari. Meskipun singkat, kegiatan tersebut tetap menjadi pengalaman belajar yang memiliki arti penting karena menjadi kesempatan pertama bagi banyak siswa untuk melakukan penelitian lapangan secara mandiri.
Bagi para siswa, kegiatan semacam ini memang selalu mengasyikkan. Secara alamiah, manusia memiliki kecenderungan sebagai homo ludens, makhluk yang gemar bermain, menjelajah, dan menemukan pengalaman-pengalaman baru. Kecenderungan itu merupakan warisan panjang perjalanan evolusi manusia ketika nenek moyang masih hidup sebagai masyarakat pemburu dan peramu yang berpindah-pindah atau hidup secara nomaden. Perjalanan demi perjalanan yang dahulu dilakukan untuk mempertahankan hidup, lambat laun meninggalkan jejak naluriah berupa kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru.
Dalam kehidupan modern, naluri tersebut tidak lagi diwujudkan dengan berburu hewan liar atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan melalui berbagai aktivitas yang menghadirkan pengalaman baru, termasuk kegiatan seperti PKL. Setelah lebih dari dua setengah tahun menjalani rutinitas belajar di sekolah, kesempatan belajar di luar kelas tentu menjadi ruang kebahagiaan tersendiri bagi para siswa. Terlebih lagi, biaya kegiatan pada masa itu masih relatif terjangkau dan umumnya dapat dibayarkan secara bertahap sehingga tidak terlalu membebani orang tua.
Hari keberangkatan selalu menjadi momen yang paling dinanti. Sejak pagi para siswa telah berkumpul di sekolah dengan wajah penuh semangat. Sebelum bus berangkat, hampir setiap kelas menyempatkan diri berfoto bersama sebagai penanda sebuah perjalanan yang kelak akan menjadi kenangan. Tas-tas besar berisi pakaian, makanan ringan, bekal perjalanan, dan berbagai perlengkapan pribadi memenuhi bagasi bus, ada juga yang diangkut oleh truk.
Bagi sebagian siswa yang telah memiliki walkman, alat pemutar kaset itu menjadi teman sepanjang perjalanan. Mereka yang belum memilikinya biasanya mendapat giliran mendengarkan lagu secara bergantian atau berbagi satu headset dengan teman di sebelahnya. Kebiasaan berbagi semacam itu selalu lahir dari kedekatan, baik karena persahabatan maupun hubungan kekeluargaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Namun sesungguhnya, walkman bukanlah pusat kegembiraan. Lagu-lagu yang dinyanyikan bersama diiringi petikan gitar, canda yang tak putus sepanjang perjalanan, hingga tawa di dalam bus justru menjadi hiburan yang jauh lebih berkesan.
Bagi alumni SMAN 1 Kota Sukabumi angkatan 1998, lokasi tujuan PKL dibedakan berdasarkan jurusan. Siswa jurusan IPA melaksanakan kegiatan di Ujung Genteng, sedangkan siswa jurusan IPS menuju Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi di Kecamatan Cisolok. Kedua lokasi tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Keduanya merupakan laboratorium alam dan laboratorium sosial yang menyediakan objek penelitian sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari di ruang kelas.
Ujung Genteng merupakan laboratorium alam yang sangat kaya. Kawasan pesisir, ekosistem pantai, biota laut, hingga kawasan konservasi penyu menjadi objek yang sangat relevan bagi pembelajaran Biologi maupun ilmu-ilmu eksakta lainnya. Para siswa melakukan pengamatan terhadap berbagai fenomena alam, mencatat hasil observasi, kemudian mengolahnya menjadi laporan ilmiah yang menghubungkan teori dengan fakta di lapangan. Pengalaman semacam ini menghadirkan pemahaman yang jauh lebih utuh dibandingkan hanya dengan membaca buku pelajaran.
Sebaliknya, Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi menjadi laboratorium sosial yang sangat ideal bagi siswa jurusan IPS. Kehidupan masyarakat hukum adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur Sunda membuka kesempatan untuk memahami struktur sosial, sistem kepemimpinan adat, pola interaksi masyarakat, hingga mekanisme pengambilan keputusan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari sudut pandang antropologi, para siswa dapat mempelajari bagaimana nilai-nilai budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Dari sisi ekonomi, mereka melihat bagaimana masyarakat mengelola lumbung padi (leuit) sebagai simbol ketahanan pangan, mempertahankan puluhan varietas padi lokal, serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam. Semua itu menjadi pelajaran yang sulit ditemukan hanya melalui buku teks.
Dengan pembagian tersebut, siswa jurusan IPA kembali ke sekolah membawa laporan ilmiah mengenai ekosistem pesisir dan biota laut, sedangkan siswa jurusan IPS menyusun laporan tentang struktur masyarakat, budaya, dan berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat adat. Laporan-laporan tersebut kemudian memenuhi rak laboratorium IPA maupun perpustakaan sekolah sebagai referensi bagi adik-adik kelas. Saat itu SMANSA bahkan masih memiliki Laboratorium IPS, meskipun pada tahun-tahun berikutnya ruangan tersebut beralih fungsi menjadi ruang kelas karena kebutuhan sekolah yang terus berkembang.
Walakin, waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk mengubah banyak hal. Laporan-laporan penelitian yang dahulu dijilid rapi perlahan menguning dimakan usia. Sebagian mungkin masih tersimpan di rak perpustakaan, sebagian lainnya telah hilang karena perpindahan ruangan atau pergantian generasi.
Ironisnya, yang justru tetap utuh bukanlah tumpukan laporan ilmiah itu, melainkan kenangan yang melekat di dalam ingatan setiap siswa. Mereka masih mengingat aroma laut Ujung Genteng, udara sejuk Kasepuhan Sinar Resmi, suara ombak, jalan berliku menuju lokasi penelitian, percakapan panjang di penginapan, makan bersama, hingga tawa yang pecah tanpa sebab di dalam bus. Ingatan manusia memang sering bekerja dengan cara yang unik. Ia lebih setia menyimpan pengalaman daripada dokumen.
PKL adalah ruang tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan kehidupan nyata. Di sanalah para siswa belajar bahwa alam bukan hanya kumpulan teori dalam buku Biologi, masyarakat bukan sekadar bab dalam buku Sosiologi, dan kebudayaan bukan hanya definisi yang harus dihafalkan menjelang ujian. Semua hadir sebagai kenyataan yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, bahkan dipahami melalui interaksi langsung.
Hampir tiga dekade setelah PKL, ketika para alumni telah menempuh jalan hidup masing-masing, mereka mungkin sudah lupa isi laporan yang pernah disusun. Namun mereka tidak pernah lupa perjalanan yang mengajarkan bahwa belajar sesungguhnya tidak selalu berlangsung di balik dinding kelas, melainkan juga di jalan, di pantai, di kampung adat, dan di setiap tempat yang memberi kesempatan kepada manusia untuk mengenal dunia sekaligus mengenal dirinya sendiri.
Posting Komentar untuk "Catatan #34: Praktik Kerja Lapangan"