Radio Alumni SMANSA 98 - Live 24 Jam.

Catatan #29: Ramadan Tahun Ini, Tidak Ada Bukber Berskala Besar



Tahun ini, tepatnya pada Ramadan 1447 H, tidak ada agenda buka bersama berskala besar yang digagas oleh Alumni SMANSA 98. Jika meninjau kembali pengalaman masa SMA di bulan Ramadan, para siswa pada era tersebut biasanya menggelar buka puasa bersama menjelang lebaran atau di masa liburan sekolah. Aktivitas ini telah menjadi semacam urf atau kebiasaan di kalangan pelajar tahun 90-an.

Strategi yang digunakan dalam menentukan lokasi buka bersama biasanya tertuju pada rumah teman yang dipandang “mapan”. Meskipun para siswa tetap melakukan iuran untuk penyediaan makanan, pemilihan tempat di rumah teman yang orangtuanya telah benar-benar mapan bertujuan agar kekurangan penganan dapat ditutupi dan disiapkan oleh tuan rumah. Hal tersebut merupakan taktik rata-rata para siswa di masa pengetatan anggaran.

Selain pemilihan tempat, para siswa juga menyepakati pemilihan waktu. Meskipun waktu berbuka puasa sudah dipastikan saat Magrib tiba, namun penetapan hari biasanya dilakukan saat sekolah sudah benar-benar libur. Asumsinya adalah agar para siswa lebih leluasa untuk pulang larut malam atau bahkan menginap di rumah teman.

Di tahun 90-an, untuk ukuran Kota Sukabumi, sebenarnya sudah tersedia beberapa tempat kuliner dan rumah makan siap saji lainnya. Namun, tren bukber saat itu, terutama di kalangan pelajar, memang masih dilakukan di rumah.

Bukber di rumah makan siap saji belum menjadi habit bagi anak baru gede (ABG) 90-an. Kondisi ini berbeda dengan generasi milenial saat ini yang telah menemukan kebiasaan baru untuk berbuka bersama di rumah makan siap saji.

Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh pelajar SMA dan para ABG, namun juga oleh banyak komunitas yang mengambil tempat di rumah ketua atau anggota komunitas. Dampaknya, kemacetan jalan raya dan pusat kota menjelang Magrib pada masa itu tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun kemudian.

Kendati sudah berstatus alumni SMANSA, inisiasi buka bersama menjelang lebaran biasanya tetap dilakukan dengan cara menunggu kedatangan teman-teman dari luar kota yang mudik ke kota kelahiran. Sebagai contoh, Alumni SMANSA 98 pernah mengadakan buka bersama pada kurun waktu 2009-2012 di Jalur Lingkar Selatan, dan beberapa waktu lalu dilaksanakan di ODC milik Kang Dudi.

Namun, untuk tahun ini, para alumni tidak menggelar buka puasa bersama secara massal. Agenda berbuka hanya dilakukan dalam skala yang lebih kecil, misalnya per kelas atau oleh alumni perempuan saja.

Terdapat beberapa alasan yang mendasari keputusan Alumni SMANSA 98 untuk tidak melakukan buka bersama tahun ini. Pertama, tiga tahun lalu alumni telah menggelar reuni perak. Residu dari acara tersebut masih dirasakan dan berdampak besar terhadap nilai kepuasan karena mereka telah berhasil berkumpul kembali setelah seperempat abad berpisah.

Kedua, kegiatan buka puasa bersama kini lebih difokuskan pada skala kecil seperti dengan keluarga inti. Membangun hubungan emosional dengan keluarga besar menjadi pilihan terbaik di era sekarang. Fenomena sosial yang lebih trending saat ini adalah mengajak orangtua dan saudara berbuka di warung lesehan atau rumah makan siap saji sambil memberikan bingkisan atau tunjangan hari raya, dibandingkan melakukan buka puasa alumni dalam skala besar.

Ketiga, tersebarnya teman-teman alumni di berbagai kota mengakibatkan kepulangan ke kampung halaman menjadi tertunda. Kesibukan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang masih fluktuatif membuat pengeluaran untuk urusan sosial seperti bukber menjadi lebih selektif dan mengedepankan efisiensi.

Keempat, dampak pandemi beberapa tahun lalu melalui pengetatan kegiatan berskala besar masih memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam menghindari kerumunan. Preferensi baru telah terbentuk, di mana orang lebih memilih suasana hening daripada ramai, serta lebih memilih membangun kedekatan antar-anggota daripada menciptakan keramaian yang riuh.

Kelima, relasi saat ini jauh lebih mudah terbentuk melalui media sosial dan media obrolan. Keterhubungan melalui WAG yang intens sejak menjelang reuni perak membuat komunikasi terus terjalin tanpa harus duduk bersama dalam satu ruangan.

Terakhir, terdapat kecenderungan pengaruh masa SMA yang kembali muncul di usia 40 tahun ke atas, di mana membangun ikatan dengan "geng lawas" yang memiliki satu preferensi dirasa lebih penting. Memori kolektif ini mendorong alumni untuk lebih memilih bukber skala kecil dengan kelompok lamanya daripada menghadiri acara besar yang kadang dihadiri oleh teman yang dianggap tantrum.

Posting Komentar untuk "Catatan #29: Ramadan Tahun Ini, Tidak Ada Bukber Berskala Besar"