Radio Alumni SMANSA 98 - Live 24 Jam.

Catatan #30: Ekspresi dan Aliran Kehidupan Siswa



Berbagai ekspresi dikeluarkan oleh para siswa SMA Negeri 1 Kota Sukabumi 1998. Tujuannya agar salah satu kebutuhan “aktualisasi diri” tercapai. Ini lumrah dan menjadi ciri utama makhluk hidup bernama manusia.

Manusia pernah membangun kisah tentang ragam aktualisasi diri sebagai bagian dari cerita perjalanan hidup mereka, agar jejak kehidupan benar-benar memiliki bekas. Hakikat keberadaan manusia ingin dikenal oleh generasi berikutnya, maka leluhur manusia mewariskan informasi melalui lukisan di dalam goa.

Ekspresi diri para siswa di tahun 90-an mengikuti cara dan corak yang berkembang saat itu. Ada para siswa yang terlibat dalam seni, olahraga, budaya, bacaan, agama, diskusi, hingga diam tanpa memilih corak yang sedang tren pada masanya sudah termasuk cara mereka untuk berekspresi tanpa ekspresi.

Dan, dari pengalaman banyak teman, memiliki cara untuk mengekspresikan diri ini ternyata menjadi cara ampuh juga untuk menyemburkan jiwa maskulinitas bagi para lelaki agar mereka dikagumi oleh para siswi.

Bermacam-macam karakter para siswa, maka corak yang dilakukan oleh para siswa sebagai anak-anak yang baru memasuki masa remaja pun dilakukan dengan varian yang berbeda-beda. Bagi para siswi menggemari pemain band, misalnya, maka para siswa ada yang mulai mengasah kemampuan menabuh drum, memetik gitar, dan menjadi bagian dari pemain band remaja.

Mereka akan diteriaki oleh para siswi, tidak jauh berbeda saat band-band terkenal tampil dan diteriaki oleh penggemarnya. Maka ada satu kesimpulan singkat, seorang siswi dapat dengan mudah terhipnotis oleh siswa yang menjadi pemain band sekolah.

Walakin, karena para siswi juga berbeda karakter, ternyata bagi para olahragawan sekolah yaitu mereka para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler di bidang olahraga, memiliki anggapan bahwa para siswi juga ada yang tertarik oleh maskulinitas ala orang-orang Sparta dengan karakter macho, berotot, dan kekar. Artinya sehat dan bugar. Nyatanya memang demikian, banyak para siswi, entah itu satu angkatan atau adik kelas, terpikat oleh para siswa yang tergabung ke dalam kelompok “gladiator” sekolah.

Kendati mayoritas demikian, namun tidak sedikit para siswi yang tertarik kepada siswa yang memiliki karakter pendiam, jarang bicara, bahkan terlihat tidak pernah bergaul. Orang memang banyak yang mencurigai siswa jenis ini, jangan-jangan di dalam batinnya mereka adalah para pemberontak sejati yang melihat bahwa cara dan corak hidup di masa itu adalah satu kesalahan sejarah dan berakibat fatal bagi kehidupan manusia di masa-masa yang akan datang.

Mereka adalah jenis siswa yang banyak diam tanpa kata, mungkin lebih banyak merenung. Dan tidak sedikit para siswi yang penasaran terhadap siswa semacam ini, mereka tertantang untuk membuka sikap misterius si siswa pendiam.

Mengingat ada juga siswa yang memberikan persepsi terhadap cara dan corak kehidupan tahun 90-an sebagai konklusi dari serbuan budaya Barat atau westernisasi, maka tidak sedikit dari para siswa meneriakkan agar muda-mudi di masa itu lebih berhati-hati dalam mengekspresikan diri.

Hembusan gerakan religius kontemporer menghasilkan penafsiran baru terhadap “menjaga pandangan” atau ghadhul bashar. Dan sebagai makhluk ekspresionis, cara yang dianggap ampuh untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik yaitu dengan mengaji dan mengikuti kajian. Jangan heran, di masa itu, tidak sedikit baik para siswa maupun siswi yang membaca Al-Qur’an berukuran kecil di dalam angkutan umum atau sambil duduk-duduk di kelas.

Masih banyak sebetulnya cara dan corak ekspresi diri di sekolah masa itu, termasuk dilakukan dengan cara banyak membaca buku, menulis, mengirim karya untuk dipasang di majalah dinding, hingga mengekspresikan diri dengan cara urakan, ugal-ugalan, membentuk geng, bahkan merokok di kelas. Tujuan dari semua itu yaitu satu hal besar: ini saya, inilah aku yang harus kalian ketahui.

Lantas, apakah semua jenis ekspresi yang diperlihatkan di masa SMA pada tahun 90-an ini membentuk pribadi para siswa di masa berikutnya. Bagi penganut teori Tabula Rasa, hal ini dapat saja terjadi mengingat manusia merupakan sebuah kertas putih, maka cara dan corak kehidupan di satu zaman dapat membentuk individu menjadi apa dan siapa.

Hanya saja, secara nativis, manusia telah diberi bekal pengetahuan sejak dini, sehingga menurut aliran ini tidak sepenuhnya individu dipengaruhi oleh lingkungan hidup.

Kita juga mesti menyadari, teori-teori yang dikembangkan tersebut ternyata hanyalah bagian dari konstruksi hidup yang begitu kompleks. Sebagai contoh, dulu di sekolah seseorang dikenal sebagai anak yang urakan dan sering ugal-ugalan, terjun bebas dalam hidup, sering bolos, kesiangan, dan tidak terlalu mempedulikan masa depan, namun di masa kini dia dipandang telah meraih kesuksesan dalam hidup.

Seolah-olah hidup berpihak kepada orang yang saat sekolah justru dicap siswa nakal. Ini terjadi jika kita memandang hidup secara linear, bahwa orang yang seharusnya sukses di masa kini adalah siswa yang semasa sekolahnya benar-benar saleh, jujur, dan gemar melakukan kebaikan. Sementara siswa nakal seharusnya di masa kini menjadi manusia biasa dan tidak sukses.

Konstruksi hidup terdiri dari bahan-bahan yang begitu beragam dan dalam jumlah yang banyak, sehingga menjadi sangat kompleks. Bahkan cara pandang kita terhadap kesuksesan saja berbeda-beda. Kelompok materialis mungkin memandang orang yang memiliki banyak harta sebagai sosok yang sukses, namun bagi penganut wuwei dan aliran sinisme, justru kesuksesan adalah milik mereka yang hidup secukupnya.

Hidup terus mengalir berdasarkan ruang dan waktu yang mengitarinya, dengan cara pandang dan ekspresi yang berbeda-beda. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Heracleitos: panta rhei kai ouden menei, hidup terus mengalir dan tidak ada yang tetap. Dan ciri utama kita adalah fana atau berubah.

Posting Komentar untuk "Catatan #30: Ekspresi dan Aliran Kehidupan Siswa"