Live 24 Jam.

Catatan #28: Antara Pak Harun, Yusuf Qardhawi, dan Yusuf Metallika




Kisah ini tidak saya alami langsung saat bersekolah di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Cerita ini dituturkan kembali oleh seorang teman, tentang kawan kami bernama Yusuf Metallika. Pada kelas satu dan dua, saya dan Yusuf selalu satu kelas. Namun, saat kelas tiga, terjadi pemisahan siswa ke berbagai kelas sesuai peminatan dan rekomendasi sekolah.

Kisah tentang Yusuf Metallika ini sarat dengan kekonyolan khas masa sekolah. Pada masa itu, keceriaan sering kali menutupi berbagai dinamika emosi yang dialami siswa. Di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, terdapat seorang guru agama, almarhum Pak Harun Al-Rasyid, yang dikenal memiliki cara penyampaian materi yang runtut, logis, dan mudah dipahami. Pendekatannya yang rasional membuat beliau kerap diundang sebagai narasumber kajian keislaman di salah satu radio lokal.

Suatu ketika, saat mengajar di kelas 3.7, Pak Harun memulai pelajaran dengan metode afirmasi sebagai bentuk pre-test. Ia bertanya kepada siswa, “Ada seorang ulama kontemporer yang mengulas zakat secara rinci, ada yang tahu siapa beliau? Namanya diawali dengan kata Yusuf.”

Menurut penuturan teman saya, Yusuf Metallika tiba-tiba mengangkat tangan dan menjawab dengan penuh percaya diri, “Saya tahu, Pak, namanya Yusuf Metallika!” Spontan, Pak Harun menatap tajam dan dengan nada cukup tinggi mengoreksi, “Yusuf Qardhawi!”.

Peristiwa tersebut menarik untuk ditinjau dari perspektif psikologis. Spontanitas seperti yang dilakukan Yusuf Metallika sering kali dipengaruhi oleh alam bawah sadar. Dalam kondisi tertentu, individu dapat bertindak tanpa melalui penyaringan nalar yang matang. Hal serupa juga dapat terjadi pada siapa pun, termasuk Pak Harun, ketika respons emosional muncul secara tiba-tiba.

Dalam kajian psikologi, konsep alam bawah sadar dipopulerkan oleh Sigmund Freud melalui analogi gunung es. Sebagian besar aktivitas mental manusia berada di bawah permukaan kesadaran, mencakup dorongan, ingatan, dan emosi yang tidak disadari. Freud meyakini bahwa bagian ini memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia.

Meskipun teori Freud telah banyak dikritik dan dikembangkan lebih lanjut, konsep ini tetap relevan dalam pendekatan modern seperti neurosains. Dalam perspektif kontemporer, fenomena ini dikenal sebagai “adaptive unconscious”, yaitu mekanisme berpikir cepat dan otomatis. Otak manusia memproses informasi dalam jumlah besar setiap detik, sehingga sebagian besar keputusan dan respons diserahkan kepada sistem bawah sadar agar tidak terjadi kelebihan beban kognitif.

Di sisi lain, peristiwa tersebut juga memicu ketertarikan saya untuk mengenal lebih jauh sosok Yusuf Qardhawi. Dalam kurun waktu 1998 hingga 2005, saya banyak membaca karya-karyanya, di samping literatur filsafat. Pada masa itu, wacana keislaman berkembang pesat, baik di Indonesia maupun secara global, seiring meningkatnya minat untuk memahami dan mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan.

Fenomena tersebut melahirkan beragam pemikiran dan gerakan di kalangan umat Islam. Buku-buku karya ulama dan pemikir Timur Tengah mudah ditemukan di perpustakaan dan toko buku. Namun, seiring waktu, terutama di era post-truth, perhatian terhadap karya-karya tersebut mulai berkurang, kecuali dalam lingkup akademik tertentu.

Meredupnya pengaruh ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi tidak lepas dari perubahan pola konsumsi informasi. Masyarakat cenderung lebih menyukai konten singkat yang sesuai dengan emosi dan keyakinan pribadi. Media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mendorong konsumsi informasi secara instan, sementara karya-karya Qardhawi menuntut kedalaman dan ketekunan membaca.

Fenomena ini juga berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “The Death of Expertise”. Otoritas keilmuan mengalami pergeseran dari figur dengan sanad keilmuan yang jelas menuju individu yang populer secara digital. Popularitas sering kali mengalahkan kepakaran, sehingga suara yang paling lantang belum tentu yang paling otoritatif.

Selain itu, terdapat perubahan kebutuhan generasi. Literatur keislaman klasik dan kontemporer umumnya berfokus pada fikih, gerakan, dan tata negara. Sementara itu, generasi milenial dan Gen Z lebih menghadapi persoalan kesehatan mental, kecemasan, dan tekanan hidup. Akibatnya, konten keagamaan yang bersifat motivasional dan menenangkan lebih diminati dibandingkan kajian yang bersifat akademis.

Yang lebih mengkhawatirkan, wacana keagamaan yang moderat dan inklusif semakin tersisih. Di tengah budaya serba cepat, masyarakat cenderung menginginkan jawaban instan dan sederhana, meskipun realitasnya kompleks. Akibatnya, pandangan yang ekstrem dan hitam-putih lebih mudah diterima dibandingkan pendekatan yang mengedepankan keseimbangan dan kedalaman berpikir.

Posting Komentar untuk "Catatan #28: Antara Pak Harun, Yusuf Qardhawi, dan Yusuf Metallika"