Bulan puasa. Jam pelajaran pertama di SMANSA dimulai pukul 08.00 WIB. Kebiasaan ini memang berlaku di sekolah-sekolah pada waktu itu. Satu jam pelajaran yang biasanya berlangsung 45 menit dipangkas menjadi 30 menit. Bagi pelajar, pengurangan itu masih terasa kurang. Seharusnya menjadi 20 menit, hehe.
Kalau dihitung secara ekonomis, pengurangan jam pelajaran tersebut sebenarnya merupakan sebuah kerugian.
SPP SMANSA pada tahun ajaran 1995/1996 sebesar Rp7.500 per bulan. Artinya, seorang siswa membayar sekitar Rp48 untuk satu jam pelajaran dengan durasi 45 menit. Ketika durasi pelajaran dipangkas menjadi 30 menit, biaya yang dikeluarkan untuk setiap jam pelajaran menjadi sekitar Rp71. Ada selisih sekitar Rp23 yang tetap harus dibayar siswa.
Namun, apalah arti Rp23 jika dibandingkan dengan ilmu yang diperoleh?
Bersekolah pada bulan puasa, bagi saya, merupakan tantangan keimanan. Sejauh mana kita benar-benar mampu berpuasa ketika berbagai godaan datang dari segala penjuru?
Suatu pagi, seorang teman mengajak saya pergi ke Warung Ceu Empat, sebuah warung kecil di dekat masjid di pinggir jalan. Saat itu jam istirahat, sekitar pukul 09.30 WIB.
“Mau apa?”
“Ikut saja denganku.”
Di pintu gerbang, kami berbohong kepada satpam. Alasannya hendak memfotokopi buku pelajaran. Ya, nilai puasa sudah berkurang gara-gara kebohongan kecil itu.
Sesampainya di warung, teman saya langsung memesan nasi dan telur dadar.
“Lho, kamu mau godin, ya?”
“Ga... ini bukan godin. Aku berbuka puasa. Ini kan ada alasan atau rukhsahnya!”
“Apa alasannya?”
“Kamu tahu, dari kelas sampai ke warung ini merupakan sebuah perjalanan. Kita adalah para musafir, sedang dalam sebuah perjalanan. Kan ada dalilnya, kalau sedang berada dalam perjalanan dibolehkan berbuka. Ya, nggak?”
“Buruung!”, ini artinya gila.
Selama sekitar sepuluh menit saya hanya duduk dan mengamati teman saya yang lahap menyantap nasi plus telur dadar.
“Besok kita ke sini lagi. Kamu tidak usah ikut-ikutan buka,” katanya sambil minum.
“Sudah menyiapkan dalil?”
“Tenang. Setiap hari aku ini berpuasa, kok. Cuma waktu sahur dan berbukanya saja berbeda dengan kamu. Waktu itu bersifat relatif, kan? Nah, begini maksudku. Aku sahur menggunakan waktu Indonesia Barat. Kadang-kadang WIT dan WITA juga sih.”
“Kalau buka?”
“Kalau buka, aku lebih sering menggunakan waktu New York. Di sini baru pukul 10 atau 11 siang, di New York sudah magrib, lho. Jadi harus menyegerakan berbuka!”
Hadeuh.
Begitulah jika kepala digunakan untuk mengakali ayat dan perintah Tuhan. Ini memang bagian dari perjalanan hidup. Siapa pun mungkin pernah berada dalam situasi seperti itu, pura-pura berpuasa padahal tidak.
Pura-pura lemas, sering meludah, bibir dibuat seolah-olah kering dan pecah-pecah, padahal mungkin sedang panas dalam. Ada pula yang justru berpura-pura kuat, tampil bugar seolah-olah sedang menjalankan puasa, padahal memang sedang tidak berpuasa.
Namun, percayalah, ketika ada kegiatan buka puasa bersama di sekolah, semua siswa mengikuti acara tersebut, termasuk teman saya. Bahkan cara makannya pun lebih rewog dibandingkan teman-teman yang benar-benar menuntaskan puasanya sampai magrib.
Demi alasan sopan santun, saya harus menyembunyikan identitas teman saya dalam cerita ini.
Barangkali ia sendiri sudah lupa dengan kisah kecil itu. Saya pun tidak tahu apakah setelah bertahun-tahun ia masih menggunakan perbedaan zona waktu sebagai dalil untuk mempercepat waktu berbuka.
Yang jelas, masa sekolah memang penuh dengan cerita semacam itu. Ada yang benar-benar belajar menahan lapar dan dahaga, ada juga yang belajar mencari celah dengan berbagai alasan. Semuanya menjadi bagian dari kenangan yang, ketika dikenang kembali, membuat kita tiba-tiba tersenyum sendiri.
Posting Komentar untuk "Catatan #4: Saat dalam Perjalanan, Kita Dibolehkan Membatalkan Puasa"