Catatan #5: Sekolah Bukan Penjara


Pernah merasa jenuh dan bosan ketika berada di dalam kelas? Hampir setiap siswa pasti pernah merasakannya. Pada tahun 1997, ketika saya menjalani kehidupan sebagai salah seorang pelajar di SMANSA, saya pun mengalaminya. Teman-teman dan hampir semua siswa juga demikian.

Padahal, sekolah bukanlah penjara. Lalu, mengapa banyak anak merasa bosan berada di dalam kelas, terutama ketika mata pelajaran yang diberikan adalah Fisika, Matematika, atau Kimia? Satu jam pelajaran terkadang terasa seperti berlangsung selama seminggu.

Pada tahun 1990-an, ketika media elektronik seperti televisi mulai menjamur, tayangan iklan di televisi sering kali menjadi bagian dari tutur sehari-hari. Ketika diumumkan sekolah dibubarkan lebih awal karena para guru akan mengadakan rapat, mayoritas siswa langsung berteriak, “Bebass, euy!”

Kalimat itu mengingatkan saya pada ucapan Kang Ibing dalam salah satu iklan obat sakit kepala, ketika ia digambarkan sembuh setelah meminum obat tersebut.

Para siswa memang bukan main bahagianya ketika sekolah dibubarkan sebelum jam pelajaran terakhir. Begitu pula ketika diumumkan bahwa esok hari sekolah diliburkan karena ada rapat. Saya dan beberapa teman spontan berteriak, “Yesss!”

Mengapa kami begitu gembira?

Barangkali itu menjadi tanda bahwa sekolah, bagi sebagian siswa, telah terasa seperti sebuah “penjara”. Sistem dan pola pendidikan yang diterapkan terlalu kaku, menakutkan, dan kurang bersahabat dengan dunia anak.

Bisa dibayangkan. Pukul 07.00 WIB para siswa harus sudah berada di sekolah karena pukul 07.10 WIB gerbang sudah ditutup. Jika kesiangan, ada saja cara untuk masuk, termasuk menaiki benteng tembok di belakang sekolah. Saya pernah mengalaminya. Ketika tetap menunggu di depan gerbang dengan harapan pintu akan dibuka, gerbang tak kunjung terbuka. Saya malah disebut siswa aneh.

Belum lagi kemacetan di jalan. Pada tahun itu, manusia seolah-olah sedang memburu sesuatu sejak pagi. Jalanan tumpah oleh orang-orang yang bergerak menuju berbagai tujuan. Rasanya hampir 30 persen penduduk Kota Sukabumi tumpah ke jalan setiap pagi.

Awalan seperti itu tentu kurang baik bagi mayoritas siswa. Memasuki sekolah dalam keadaan memburu dan diburu waktu membuat suasana batin tidak tenang. Ketika akhirnya berada di dalam kelas, secara psikologis mereka masih membawa tekanan dari perjalanan pagi tadi. Keinginan untuk segera keluar pun muncul.

Pelampiasannya bermacam-macam: pergi ke lapangan basket, duduk di kantin, atau pulang sebelum waktunya. Karena itu, ketika ada pengumuman bahwa sekolah pulang lebih awal, seluruh siswa langsung bersorak gembira.

Suatu Senin di bulan Januari 1997, saat jam pelajaran Akuntansi, seorang siswa berkata,

“Menurut kelas sebelah, Pak Ajat tidak ada. Kita pulang saja!” katanya.

Semula saya ragu. Informasi itu terdengar seperti kabar yang belum tentu benar.

Namun, hampir seluruh siswa kelas 2.1 langsung bersorak gembira. Buku-buku dibereskan, tas diambil, lalu satu per satu meninggalkan kelas tanpa berdoa dan tanpa pamit kepada siapa pun.

Sebanyak 35 siswa pulang, sementara lima orang memilih tetap tinggal.

Bahagia bukan main hari itu. Saya dan teman-teman merasa bisa menghirup udara segar setelah beberapa jam dicecar pelajaran Fisika, Matematika, dan Bahasa Inggris di dalam ruang kelas yang berdinding tua dan terasa dingin.

Peristiwa seperti ini sebenarnya persoalan klasik dalam dunia pendidikan. Bukan hanya di sekolah. Di pengajian pun demikian. Ketika guru ngaji berhalangan hadir, anak-anak bisa langsung bergembira, keluar dari masjid dan berhamburan seperti ayam yang dilepas dari kandang.

Celakanya, persoalan klasik ini berbuntut panjang. Seminggu kemudian, Pak Ajat masuk ke kelas. Beliau berdiri di depan kami dan berkata,

“Kalian pulang saja! Seperti Senin lalu. Bapak tidak akan mengajar lagi di kelas ini,” katanya sambil keluar.

Kontan tidak ada seorang pun yang keluar. Kami hanya diam dan saling berpandangan.

“Senin lalu, Pak Ajat itu ada...!”

Kelas langsung gaduh. Kami saling menyalahkan. Informasi yang berasal dari teman saya ternyata memang tidak valid. Kabar yang sama sekali tidak dapat dipercaya.

Ketua kelas tetap tenang. Ia kemudian pergi ke ruang guru untuk melobi guru Akuntansi. Ada pula teman yang berkomentar,

“Kok, guru pundungan gitu, ya?”

Hasil lobi ketua kelas tetap sama. Tekad baja Pak Ajat sebanding dengan semangat juang para pahlawan sebelum negeri ini merdeka. Beliau tetap pada keputusannya: tidak akan masuk ke kelas 2.1 lagi selama satu semester.

Bisa dibayangkan, jadi apa kami nantinya?

Walhasil, Pak Ajat memang hanya sekitar dua bulan tidak masuk ke kelas 2.1. Namun, bagi saya dan teman-teman, itu tetap merupakan kerugian besar.

Ada nada ultimatum yang masih saya ingat:

“Sepintar apa pun kalian, nilai tetap ditentukan oleh guru!”

Ada pula pepatah yang sering kita dengar:

“Murid tidak akan melebihi kepintaran guru.”

Saya kemudian berpikir, sekolah tidak akan terasa seperti penjara jika sistem dan pola pendidikan tidak terlalu membebani anak didik dengan muatan pelajaran yang melampaui kapasitas mereka.

Setiap anak memiliki porsi dan kemampuan masing-masing. Mereka bukan gelas kosong yang harus terus-menerus diisi dengan berbagai macam “minuman”. Jika semuanya dituangkan sekaligus, yang muncul justru sebuah campuran yang aneh, sulit diberi nama, bahkan mungkin tidak layak diminum.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa peserta didik boleh belajar sesuka hati atau bertindak seenaknya. Disiplin tetap diperlukan. Belajar tetap menjadi kewajiban. Namun, memberikan ruang gerak bagi perkembangan psikologis anak jauh lebih penting.

Bu Rumi, salah seorang guru BK di SMANSA, pernah berkata kepada saya waktu itu,

“Sekolah bukan milik nenek kalian, jadi jangan seenaknya!”

Kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang.

Pertanyaan saya sederhana, bagaimana jika anak bapak atau ibu guru sendiri yang menjadi korban dari ketidaktepatan sistem dan pola pendidikan di negara ini?

Bagi saya, keberhasilan belajar justru banyak ditentukan oleh keakraban dan kehangatan sesama warga sekolah. Hubungan antara guru dan siswa sangat menentukan. Sikap menghormati guru sebagai perwakilan orangtua membuat ilmu lebih mudah diterima dan meresap ke dalam diri.

Sekarang, sudah lebih dari dua dekade saya mengajar di sekolah. Ketika ada siswa yang melakukan tindakan kurang baik, saya sering tersenyum sendiri sambil mengingat tingkah laku saya ketika masih duduk di bangku SMANSA.

Saya hanya bisa berkata kepada para siswa, “Kalian adalah cermin hidup Bapak saat duduk di bangku sekolah. Kenakalan kalian adalah potret diri Bapak di masa lalu. Namun, ketika suatu hari nanti kalian menjadi guru, jangan marah besar ketika menjumpai siswa yang nakal. Anggaplah mereka sebagai cermin kehidupan kalian.”

Barangkali memang begitulah sekolah. Di sana ada anak yang datang untuk belajar, ada yang datang untuk bermain, ada yang datang karena kewajiban, ada juga yang sesekali mencari celah untuk pulang lebih cepat. Tetapi dari semua itu, sekolah semestinya tetap menjadi ruang tempat anak-anak tumbuh sebagai manusia.

Sebab sekolah bukan penjara. Dan guru pun bukan sipir.

Posting Komentar untuk "Catatan #5: Sekolah Bukan Penjara"