Catatan #3: Kaos Golkar Berwarna Putih


Selasa pagi, udara bulan Maret 1997 terasa hangat. Jam pelajaran Penjaskes, siswa kelas 2.1 melakukan pemanasan di lapangan basket. Kami berdiri melingkar. Tidak jauh berbeda dengan anak-anak PAUD sekarang, dipenuhi senda gurau dan saling mengusili. Kadang ada yang iseng melorotkan celana training berwarna biru tua milik temannya.

Pak Yosef memperhatikan kami dari tangga dekat kantin sekolah.

Saya masih ingat, pagi itu kaos olahraga saya basah. Sejak dari rumah sudah terpikir, ini bisa menjadi masalah besar di sekolah. Di rumah kakek, saya menemukan sebuah kaos bergambar Golkar berwarna putih, bukan kuning seperti warna khas Golkar waktu itu. Akhirnya kaos itu saya bawa ke sekolah. Bagaimana nanti saja.

Ketika saya mengganti seragam sekolah dengan kaos putih bergambar Golkar itu, teman-teman langsung tersenyum. Ada pula yang berteriak, “Hidup Golkar!”

Demi menambah kegaduhan, saya santai saja menimpali, “Golkar bukan partai politik, jadi bisa masuk sekolah. Kalian tidak takut Kodim, hah?”

Maklum, Maret 1997 adalah masa menjelang Pemilu. Suhu politik mulai meningkat dan tahun itu memang menjadi salah satu puncak kehidupan politik Orde Baru.

“Prittttt!” Peluit ditiup.

Pak Yosef menunjuk saya dan memberi isyarat agar menghampirinya.

“Kenapa tidak memakai kaos olahraga?”

“Basah, Pa!”

“Ha-ha-ha... Kaos Golkar kok berwarna putih, bukan kuning!” Pak Yosef terbahak.

“Duduk sini!” tambahnya sambil menunjuk kursi di kantin.

Kemudian beliau bertanya,

“Bagus tidak perolehan suara Golkar di kampungmu lima tahun lalu?”

“Ah, kalah sama PPP!”

“Lho, kaos Golkar berwarna putih ini dapat dari mana?”

“Dari Jakarta. Paman saya yang bawa, Pak.”

“Ya... ya... ya...”

Obrolan pun selesai.

Selasa berikutnya, saat pelajaran Penjaskes, saya kembali mengenakan kaos Golkar berwarna putih itu. Bukan hanya di sekolah. Ketika berada di kampung, saya juga pernah ditanya oleh kepala desa: mengapa kaos Golkar yang saya pakai berwarna putih, bukan kuning?

Tahun 1997, suhu politik negeri ini memang mulai memanas. Orde Baru perlahan memperlihatkan tanda-tanda kerapuhannya. Di berbagai media internasional, seperti Radio BBC Siaran Indonesia, Deutsche Welle, Voice of America, Radio Australia, dan sejumlah radio lokal, persoalan suksesi kepemimpinan Soeharto mulai banyak diperbincangkan.

Setiap pukul 20.00 WIB, sebagian masyarakat bahkan terbiasa memindahkan saluran radio dari AM ke SW untuk menyimak siaran BBC London berbahasa Indonesia.

Kebiasaan itu mengingatkan saya pada kisah-kisah dari tahun 1960-an, ketika kekuasaan Orde Lama berada di penghujung dan negeri ini mengalami situasi yang disebut Vivere Pericoloso: kehidupan dalam suasana genting dan penuh risiko.

Tahun 1997 juga tidak jauh berbeda. Krisis ekonomi mulai menggerogoti kehidupan masyarakat. Di balik berbagai simbol kemapanan, rezim Orde Baru yang telah berkuasa puluhan tahun mulai tampak tua dan rapuh.

Entahlah, apakah kaos Golkar berwarna putih yang saya pakai ketika pelajaran Penjaskes itu memiliki hubungan dengan suasana politik negeri ini atau tidak. Saya sendiri tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Yang jelas, memakai kaos Golkar berwarna putih, bukan kuning, terasa nyaman bagi saya. Terus terang, mungkin,hanya saya yang pernah melakukan itu.

Mau dikatakan gila? Ah, rasanya terlalu berlebihan. Bagi saya, justru manusia-manusia yang hidup seperti robotlah yang lebih layak disebut gila. Hari-harinya begitu-begitu saja. Cara berpikirnya begitu-begitu saja. Bahkan pilihan warna bajunya pun harus sama.

Mungkin teman-teman SMANSA kelas 2.1, bahkan Pak Yosef sendiri, sudah melupakan peristiwa kecil beberapa puluh tahun lalu itu. Wajar. Usia kita memang semakin menua, Kawan.

Seperti pohon beringin yang begitu kokoh pada 1997, lalu tumbang pada 1999. Tetapi pohon tidak pernah benar-benar selesai hanya karena batangnya tumbang. Tunas-tunasnya tetap bisa tumbuh kembali. Begitu pula kenangan.

Ia tidak selalu hadir sebagai peristiwa besar. Kadang hanya berupa kaos olahraga yang basah, sebuah kaos Golkar berwarna putih, peluit guru Penjaskes, dan obrolan singkat di kursi kantin.

Di tahun 1997, saya tidak memihak kepada siapa pun. Tidak kepada partai apa pun. Buktinya? Kaos Golkar yang saya pakai berwarna putih. Tidak kuning.

Posting Komentar untuk "Catatan #3: Kaos Golkar Berwarna Putih"