Peradaban Mohenjodaro dan Harappa berdiri ribuan tahun lalu. Dalam berbagai kisah tentang peradaban kuno India, dikenal pula nama Manu dan Manusastra yang sering dikaitkan dengan tata kehidupan masyarakat, termasuk pembagian kasta. Pada masa itu, kedudukan seseorang banyak ditentukan oleh kelahiran: dari rahim siapa ia berasal.
Di zaman modern, pengkastaan tentu tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh garis keturunan. Namun, manusia tetap membangun sekat-sekat baru melalui cara pandang, pilihan hidup, lingkungan pergaulan, bahkan ideologi yang diyakininya.
Mungkin karena itulah, ketika saya bersekolah di SMANSA, saya merasa bahwa faksi, aliran, madzhab, atau kelompok-kelompok itu telah hadir dalam bentuknya sendiri.
Pada masa Orde Baru, pemerintah menerapkan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) untuk membatasi aktivitas politik praktis di lingkungan pendidikan. Kampus dan sekolah diharapkan menjadi ruang belajar yang steril dari pergulatan ideologi.
Namun dalam kenyataannya, gagasan, pengaruh, dan pandangan hidup tetap ada meskipun secara laten. Ia tumbuh secara diam-diam melalui pergaulan, organisasi, dan percakapan sehari-hari.
SMANSA, dengan segala dinamika siswanya, menjadi tempat bertemunya berbagai kecenderungan itu. Ekstrakurikuler yang dibentuk sekolah tentu merupakan hal yang wajar.
Namun, bagi saya waktu itu, setiap kegiatan perlahan memiliki budaya, simbol, dan cara pandang yang khas. Dari situlah muncul kesan seolah-olah setiap kelompok memiliki “madzhab”-nya masing-masing.
Pada masa orientasi siswa baru dan penataran P4, kakak-kakak kelas dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler memperkenalkan program mereka kepada para siswa baru.
Passus—Pasukan Khusus—menjadi salah satu yang menarik perhatian. Syaratnya cukup jelas, badan harus tegap seperti tentara dan tinggi badan di atas 160 sentimeter. Para siswa baru diminta berdiri tegak.
Saya pun membusungkan dada sekuat mungkin. Meski dada tidak terlalu bidang, tetap saja saya berusaha terlihat gagah, berharap dianggap layak menjadi calon anggota Passus. Hasilnya?
Saya tidak terpilih. Syukurlah. Barangkali memang saya agak alergi terhadap urusan baris-berbaris. Akhirnya saya memilih “madzhab kepanduan”: Pramuka.
Seminggu setelah kegiatan belajar mengajar berjalan normal, pada hari Sabtu saya mengikuti kegiatan Pramuka. Kakak-kakak kelasnya terkenal sedikit tegas. Sedikit saja salah, suara bentakan langsung terdengar.
Mungkin memang begitu cara mereka membangun keberanian dan disiplin. Bahkan, dalam bayangan saya waktu itu, ada kakak kelas seperti Ferdy Sukristya yang tampak lebih garang daripada Baden Powell sendiri.
Kegiatan pertama yang saya ikuti cukup menantang nyali, memanjat pohon pinus di belakang sekolah dengan bantuan tali tambang dari serat kelapa, lalu turun dengan teknik rappelling.
Saya berpikir, kalau memanjat pohon jambu klutuk yang pendek dan banyak cabangnya, saya masih berani. Tetapi ini pohon pinus yang tinggi, lalu harus turun dengan tali sambil tubuh berputar. Latihan jadi monyet, pikir saya waktu itu.
Namun karena takut dibentak, saya tetap memanjat. Setengah pingsan rasanya. Aneh juga, setelah tubuh bergantung dan berputar pada dua utas tali itu, rasa takut perlahan berubah menjadi keberanian. Bahkan muncul keinginan untuk mengulanginya lagi.
Selain Pramuka, ada pula PMR, Basket, Taekwondo, Cheerleader, Steyers, Epigonen, dan RMBU. Semua memiliki penggemarnya masing-masing. Kadang saya membayangkan suasananya seperti dunia persilatan; ada banyak perguruan, banyak aliran, dan masing-masing mencari murid baru.
Setelah bergabung dengan salah satu cabang ekskul, seseorang mulai mengenakan atribut, mengikuti budaya kelompok, dan membangun identitas baru. Di sana lahir semacam “kasta-kasta” kecil yang ditandai oleh cara berpakaian, gaya bicara, atau lingkungan pergaulan.
Namun sesungguhnya, sebagian besar siswa SMANSA tetap berada di jalur nonblok. Mereka tidak terlalu larut dalam kelompok mana pun. Termasuk saya. Pada akhirnya saya keluar dari Pramuka, lalu lebih banyak menjadi pengamat.
Ketika memasuki kelas dua, pengaruh berbagai kelompok itu terasa semakin kuat. Bukan hanya organisasi resmi sekolah, tetapi juga kelompok-kelompok kecil yang membawa gagasan dan pandangan tertentu. Saya menyebut mereka dengan candaan sebagai “Nabi-Nabi Palsu”.
Maksud saya sederhana, mereka adalah teman-teman yang baru menemukan sebuah gagasan, lalu dengan penuh semangat menyebarkannya kepada orang lain.
Ada yang membawa pandangan keagamaan tertentu, ada yang berbicara tentang sejarah Islam, ada yang mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan situasi politik, dan ada pula yang mengajak mengikuti pengajian secara sembunyi-sembunyi.
Saya masih ingat, seorang teman pernah bertanya, “Sa, kamu tahu uang logam pecahan seratus rupiah?”
Saya mengeluarkan uang logam berwarna kuning keemasan itu. “Ini,” kata saya.
Lalu ia menjelaskan panjang lebar tentang gambar sapi, warna emas, kisah Samiri, dan berbagai tafsir yang menghubungkannya dengan keadaan Indonesia pada masa itu. Saya hanya mengangguk.
Ada pula yang mengajak mengikuti pengajian kecil. Mereka mengatakan bahwa masyarakat sedang hidup dalam fase tertentu, mengutip ayat-ayat, lalu menghubungkannya dengan kondisi sosial dan politik.
Saya mendengarkan. Manggut-manggut. Tetapi terus terang, saya tidak sepenuhnya memahami. Yang saya ingat pada masa itu justru pelajaran nahwu dari seorang ajengan di kampung: bahwa i'rab rafa memiliki beberapa tanda.
Barangkali karena itulah, saya tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kelompok mana pun. Saya lebih senang mengaji di surau setiap malam bersama Bapa Mualim.
Selama dua setengah tahun di SMANSA, saya memilih menjadi orang nonblok. Kalau boleh meminjam bahasa sederhana, di punggung saya seolah tertulis kalimat, “Jangan ganggu, aku sudah bertuhan.”
Suatu hari, di dalam kelas, beberapa teman kembali terlibat perdebatan panjang tentang gagasan dan pandangan masing-masing. Yang satu berbicara, yang lain membalas.
Saya berkata, “Kalian bukan sedang berdiskusi, tapi berdebat.”
Entah karena jengkel atau bosan, saya sempat memukul meja sebelum keluar kelas. Mereka melanjutkan perdebatan.
Saya pergi ke kantin, membeli yogurt, lalu berdiri membaca karya-karya siswa yang dipajang di Papyrus Creatio.
Di sana saya menemukan sebuah anekdot karya kakak kelas. Dan saya tertawa terbahak-bahak.
Barangkali sejak saat itu saya menyadari, bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan. Ia juga menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, keyakinan, dan cara memandang dunia.
Ada yang memilih menjadi pengikut. Ada yang menjadi penggerak. Dan ada pula yang memilih berdiri agak jauh, mengamati semuanya sambil sesekali menikmati yogurt dan membaca tulisan di dinding sekolah.
Posting Komentar untuk "Catatan #2: Faksi, Aliran, dan Madzhab di SMANSA"