Pada hari pertama penataran P4, udara pagi mencucuk. Tanah lapang SMANSA lembab lebih mendekati becek, rerumputan tidak lagi menyisakan embun, hanya basah oleh air hujan. Tidak ada kabut, tetapi dinginnya tetap menyelusup hingga ke pori-pori, menembus jaket yang saya kenakan meski cukup tebal.
Baru setengah enam pagi, para siswa baru sudah memenuhi lapangan. Kami dibariskan seperti tentara, kemudian diarahkan menuju mesjid. Di Masjid Bahrul Ulum, ada pencerahan keagamaan dari Pak Harun, guru Pendidikan Agama Islam.
Dalam ceramahnya, Pak Harun mengutip gagasan Daniel Goleman bahwa kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan IQ. Maksudnya, orang yang memperoleh nilai akademik tinggi belum tentu memiliki kecerdasan dalam seluruh aspek kehidupan. Gagasan Goleman sendiri lebih luas, manusia memiliki kemampuan dan bentuk kecerdasan yang beragam, sehingga kecerdasan tidak bisa diukur hanya dari satu ukuran.
Secara akademik, siswa baru SMANSA pada tahun 1995 memang tergolong siswa dengan prestasi cukup tinggi. Sebagian besar merupakan peraih NEM di atas 40 saat ujian SLTP, atau jika dirata-ratakan sekitar 8 untuk setiap bidang studi. Barangkali itulah salah satu alasan SMANSA kemudian dikenal sebagai sekolah unggulan.
Ada rasa bangga ketika saya mengenakan seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya. Di dada dan pakaian itu melekat identitas sekolah. Ketika berada di dalam angkot, siswa dari sekolah lain kadang saling berbisik,
"Sttt... ada anak SMANSA!"
Kalimat pendek itu terasa seperti sebuah penghargaan. Ada semacam kebanggaan menjadi bagian dari sekolah yang pada masa itu memiliki nama besar.
Penataran P4 masih menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Masa itu masih berada dalam suasana Orde Baru. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa dua atau tiga tahun kemudian negeri ini akan memasuki masa krisis multidimensi.
Salah satu nama politisi yang cukup terkenal saat itu adalah Sri Bintang Pamungkas. Saya mengenalnya bukan dari ruang kelas, melainkan dari siaran Radio BBC yang sesekali saya dengarkan. Namun, membicarakan politik secara terbuka merupakan sesuatu yang tabu pada zaman itu, terlebih bagi pelajar.
Penataran P4 dan berbagai akronim seperti ipoleksosbudhankam tidak dianggap sebagai politik, apalagi revolusi. Semua itu disampaikan sebagai bagian dari pendidikan kewarganegaraan agar warga negara memiliki kesadaran dan tekad mewujudkan semangat pertahanan keamanan rakyat semesta, atau Hankamrata. Begitulah kira-kira yang disampaikan para penatar.
Pelajar jangan berpolitik. Tugasnya belajar.
Kalimat seperti itu sejalan dengan nasihat Pak Harun. Namun, soal "kecerdasan tidak sekadar IQ" rupanya ditafsirkan oleh sebagian siswa dengan cara yang jauh lebih sederhana, bahkan nakal. Di antara mereka muncul semacam rumus baru: kalau kecerdasan tidak hanya soal IQ, berarti kenakalan pun bisa dianggap sebagai kecerdasan.
Para siswa baru banyak belajar dari kakak kelas. Salah satunya adalah cara melewati benteng di belakang sekolah ketika datang terlambat.
Kalau kesiangan, jangan berdiri di depan gerbang seperti yang pernah saya lakukan. Itu namanya blo'on. Sebab, sampai kiamat pun kita berdiri di sana, gerbang tidak akan terbuka. Satpam sekolah sudah disumpah untuk menjalankan kewajibannya. Mereka akan tetap taat pada tugas.
Jadi, bersikaplah cerdas. Siswa SMANSA itu hebat.
Penyebab keterlambatan datang ke sekolah waktu itu biasanya kemacetan di Jalan Sigodeg. Namun bagi saya ada tambahan, saya memang biasa berjalan kaki ke sekolah melalui Kerkhof. Hanya saja, guru yang mengajar pada jam pertama tidak mau tahu. Terlambat tetap terlambat. Tidak ada alasan.
Hukumannya sederhana, berdiri di depan kelas atau menunggu di luar kelas.
Kalau dihitung-hitung, sebenarnya saya jarang terlambat. Tetapi, pelajaran dari kakak kelas tentang cara menaiki benteng berduri itu akhirnya pernah juga saya praktikkan. Saat melakukannya, saya merasa seperti seorang pejuang yang sedang berusaha memasuki benteng pertahanan kompeni.
Bedanya, pejuang mungkin akan ditembak musuh.bSaya akan ditembak guru. Kalau ketahuan, tamatlah perjuangan.
Begitulah, mungkin, kecerdasan siswa SMANSA pada masa itu menemukan bentuknya yang lain. Tidak selalu muncul dalam lembar ujian, angka NEM, atau nilai rapor. Kadang-kadang ia muncul dalam kemampuan mencari jalan keluar dari masalah yang sangat sederhana, bagaimana caranya masuk sekolah ketika gerbang sudah ditutup.
Itulah sebabnya, barangkali, siswa SMANSA memang cerdas-cerdas. Sebab, seperti kata Pak Harun pagi itu:"Kecerdasan tidak sekadar IQ..."
Posting Komentar untuk "Catatan #1: Sttt... Ada Anak SMANSA"