Radio Alumni SMANSA 98 - Live 24 Jam.

Catatan #32: DBT



Selain bergabung ke dalam organisasi resmi ekstrakurikuler sekolah, tidak sedikit siswa yang meleburkan diri ke dalam perkumpulan independen dengan corak dan karakter yang beragam. Sudah menjadi naluri manusia sebagai makhluk sosial untuk membangun relasi dan koordinasi dengan sesama.

Para siswa pun demikian. Pada masa remaja, mereka mulai memperluas lingkaran pertemanan, tidak hanya terbatas pada satu kelas, melainkan membentuk kelompok tertentu yang didasarkan pada kesamaan minat, pengalaman, hingga kedekatan emosional. Dalam beberapa kasus, kelompok-kelompok tersebut bahkan membangun identitas sosial tersendiri yang terkadang melahirkan sekat antara kelompok “elit” dan kelompok “biasa”.

Salah satu perkumpulan yang cukup familiar di kalangan siswa SMANSA angkatan 1998 adalah DBT. Kendati tidak semua orang memahami secara pasti makna namanya, konon DBT merupakan akronim dari Disobedient yang berarti membangkang atau tidak patuh.

Dalam konteks tertentu, istilah tersebut sering diasosiasikan dengan sikap nakal dan durhaka terhadap aturan. Sesuai dengan citra yang berkembang, para siswa yang tergabung di dalamnya kerap digeneralisasi sebagai siswa bermasalah dan identik dengan ketidakpatuhan.

Bentuk ketidakpatuhan itu di antaranya mengabaikan tata tertib sekolah, melawan guru, hingga merundung siswa lain. Meskipun demikian, generalisasi semacam itu tentu tidak sepenuhnya benar, sebab tidak semua anggota kelompok memiliki karakter dan perilaku yang sama.

Masa transisi dari anak-anak menuju remaja memang ditandai oleh dinamika perkembangan mental yang kompleks. Pada fase ini, muncul berbagai perilaku yang sering dianggap menyimpang dari norma dan aturan sekolah, sehingga para siswa mudah dicap sebagai “anak nakal”.

Dalam kenyataannya, sebagian besar perilaku tersebut merupakan bagian dari proses pencarian identitas diri. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk batasan dan aturan yang selama ini mengikat kehidupan mereka.

Karena dilakukan secara berkelompok, para siswa yang dianggap “nakal” ini kemudian sering ditakuti oleh siswa lainnya. Padahal, selama perilaku tersebut masih berada dalam batas tertentu dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain, kenakalan remaja dapat dipahami sebagai bentuk pencarian otonomi dan kebebasan pribadi.

Selain dorongan untuk mempertanyakan relevansi aturan sekolah terhadap kebebasan diri, kenakalan remaja juga dipengaruhi oleh perkembangan otak yang masih cenderung impulsif. Pada usia tersebut, para remaja sering kali bertindak tanpa pertimbangan yang matang.

Pertumbuhan hormon turut memengaruhi kondisi emosional mereka yang labil dan mudah berubah secara drastis. Seorang siswa yang pada awalnya dikenal baik dapat berubah menjadi sangat emosional ketika menghadapi persoalan yang tidak mampu ia selesaikan saat itu juga.

Walakin, di balik dinamika tersebut terdapat sisi positif, yakni tumbuhnya sikap kritis. Para siswa mulai belajar mempertanyakan aturan, menilai lingkungan di sekitarnya, dan membangun pola pikir yang lebih mandiri sesuai perkembangan usia mereka.

Karena itu, tidak mengherankan apabila siswa yang cenderung impulsif, dipengaruhi gejolak emosi remaja, serta diperkuat oleh pengaruh teman sebaya, banyak yang tertarik bergabung ke dalam kelompok-kelompok di luar organisasi resmi sekolah seperti DBT.

Dari pengalaman yang saya alami, peran sekolah menjadi sangat krusial dalam melakukan pembinaan, bukan sekadar menjadi penghukum bagi para siswa yang sedang mencari identitas dirinya. Energi pemberontakan dan kenakalan remaja harus diarahkan kepada aktivitas yang lebih positif, kreatif, dan konstruktif.

Nama yang disematkan pada sebuah perkumpulan seperti DBT tidak dapat dijadikan indikator mutlak bahwa seluruh anggotanya adalah anak-anak nakal. Mereka, pada dasarnya, hanyalah remaja yang sedang berusaha menemukan identitas dan jati diri agar merasa lebih relevan dengan ruang sosial yang mereka tempati.

Posting Komentar untuk "Catatan #32: DBT"