
Alumni SMANSA 1998 merupakan salah satu generasi yang berada tepat di episentrum perubahan dan masa transisi di berbagai bidang kehidupan. Secara pribadi, saya merasakan langsung situasi tersebut ketika masih duduk di bangku SMA, dan kemungkinan besar pengalaman serupa juga dialami oleh teman-teman satu angkatan.
Masa transisi memaksa para remaja saat itu untuk menafsirkan ulang cara hidup yang selaras dengan alam pikir mereka sebagai pelajar sekaligus bagian dari masyarakat yang sedang berubah. Kami tumbuh di tengah suasana yang tidak sepenuhnya stabil, tetapi justru membentuk cara pandang baru terhadap kehidupan sosial, pendidikan, dan masa depan.
Sejak satu dekade terakhir, saya sering menulis bahwa sejarah kehidupan manusia selalu memiliki pola tertentu yang berulang dalam bentuk berbeda. Alam dan keadaan sering kali memberikan jawaban atas persoalan yang sebenarnya diciptakan manusia sendiri, meskipun manusia tidak selalu mampu menyelesaikannya secara menyeluruh.
Di penghujung milenium pertama itu, generasi 1998, termasuk para siswa SMANSA, seolah sedang menerima pelajaran langsung dari semesta tentang perubahan, ketidakpastian, dan kemampuan bertahan hidup. Karena itu, generasi ini memiliki tanggung jawab moral untuk mengisahkan kembali pengalaman tersebut kepada generasi berikutnya, baik melalui penuturan langsung (vacana) maupun cerita kepada anak-anak mereka kelak.
Dalam bidang pendidikan, salah satu peristiwa penting yang kami alami adalah pergantian kepala sekolah dari Ibu Entin Sumartini kepada Pak Vredi Kastam Marta pada 1997. Pergantian itu bagi saya merupakan simbol pelajaran tentang adaptasi terhadap lingkungan dan kepemimpinan yang berbeda.
Bu Entin dikenal memiliki karakter konservatif dengan perpaduan ketegasan dan ketulusan, sedangkan Pak Vredi lebih moderat dan memberi ruang kebebasan berpikir kepada para siswa, khususnya kelas III. Perbedaan karakter kepemimpinan tersebut secara tidak langsung membentuk dinamika psikologis dan pola pikir siswa dalam menghadapi masa akhir sekolah.
Memasuki awal tahun 1998, disparitas antara siswa yang serius mempersiapkan ujian dengan siswa yang memilih santai terlihat begitu jelas. Sebagian siswa tetap fokus mengikuti les dan bimbingan belajar, sementara sebagian lainnya memilih menjalani semuanya dengan sikap “mengalir saja”.
Situasi ini membuat para guru BK semakin tertantang menjaga ritme belajar di tengah keyakinan masyarakat bahwa SMANSA adalah sekolah terbaik pada masa itu. Menariknya, di tengah suasana menjelang ujian, sekolah justru menggelar pertandingan antarsekolah yang membuat banyak siswa lebih tertarik mendukung tim sekolah dibanding mengikuti bimbingan belajar.
Saya masih mengingat suasana Lapang Voli yang saat itu dipadati siswa. Di tengah keramaian itu saya pernah berseloroh bahwa mungkin tahun tersebut menjadi masa terakhir kejayaan SMANSA. Candaan itu muncul karena saya melihat perubahan suasana belajar yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tidak lama setelah angkatan 1998 lulus, predikat sekolah terbaik memang mulai bergeser kepada sekolah lain. Namun bagi kami, SMANSA tetap menjadi ruang penting yang membentuk cara berpikir dan karakter generasi saat itu.
Diskusi di ruang kelas pada masa itu juga terasa sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saat pelajaran Tata Negara bersama Bu Agnes, pembahasan tidak lagi hanya berkutat pada teori, melainkan mulai menyinggung konteks sosial dan politik nasional secara langsung. Kami mendiskusikan kasus Eddy Tansil, aksi unjuk rasa mahasiswa, hingga krisis moneter yang saat itu dikaitkan dengan spekulasi George Soros terhadap sistem keuangan negara-negara berkembang.
Bagi siswa jurusan IPA, pembahasan mungkin saja berkembang ke arah sains modern seperti kloning dan perkembangan antariksa, sehingga sekolah menjadi ruang pertemuan antara isu politik dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada masa Orde Baru, pemerintah menerapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Sekolah untuk menekan pengaruh politik praktis di lingkungan pendidikan. Para siswa dan mahasiswa pada dasarnya hanya diperbolehkan membahas persoalan politik dalam versi resmi pemerintah, sementara kajian kritis dianggap subversif dan berbahaya.
Program seperti Penataran P4 menjadi bagian utama pendidikan ideologi, sedangkan pembahasan di luar Pancasila, UUD 1945, GBHN, dan Wawasan Nusantara sering dipandang mencurigakan. Hal ini menciptakan budaya diam dan kehati-hatian dalam membicarakan persoalan negara.
Namun memasuki awal 1998, krisis moneter mengubah hampir seluruh wajah kehidupan nasional. Krisis tidak lagi dimaknai bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan telah menjalar menjadi krisis multidimensi yang menyentuh aspek politik, sosial, dan budaya.
Para siswa di sekolah-sekolah mulai berani memperbincangkan kemungkinan runtuhnya Orde Baru secara terbuka. Politik yang sebelumnya terasa jauh dari dunia pelajar perlahan masuk ke ruang-ruang kelas dan percakapan sehari-hari.
Salah satu simbol perubahan itu adalah munculnya berbagai media cetak yang berani mengkritik pemerintah. Saya masih mengingat ketika Majalah D&R edisi Maret 1998 menjadi bahan pembicaraan hangat di sekolah karena memuat ilustrasi Soeharto pada kartu remi dengan simbol “P” menggantikan huruf “K”.
Rasa penasaran kami terjawab ketika seorang teman, Agung Prasetyo, membawa majalah tersebut ke sekolah dan kami berebut melihat sampulnya. Peristiwa kecil itu menjadi penanda bahwa politik praktis mulai masuk ke lingkungan sekolah secara terang-terangan. Sesuatu yang sebelumnya hanya bersifat laten kini menjadi pembicaraan terbuka di kalangan siswa.
Contoh lainnya, menjelang akhir tahun 1997, suasana sekolah juga sempat terasa mencekam ketika muncul amplop-amplop berpita hitam di atas meja kelas. Saya sendiri tidak melihat langsung isi surat tersebut, tetapi mendapat cerita dari beberapa teman dan guru yang menyebut bahwa surat itu diduga bermuatan politis.
Pihak sekolah segera mengamankan surat-surat tersebut untuk menghindari keresahan yang lebih luas. Peristiwa itu menunjukkan bahwa sekolah mulai menjadi ruang peredaran informasi politik yang sebelumnya sangat dibatasi. Masa transisi membuat kebebasan berpikir dan berpendapat berkembang sangat cepat, bahkan kadang melampaui batas yang sebelumnya dianggap wajar.
Kemunculan politik praktis di sekolah juga terlihat dari hadirnya berbagai wacana ideologi baru. Ideologi yang sebelumnya dianggap ancaman negara mulai diperkenalkan melalui diskusi, buku, hingga media cetakan terbatas yang beredar di kalangan siswa.
Sebagian siswa mulai mengenal NII, Kartosoewiryo, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, serta berbagai pemikiran Islam kontemporer lainnya. Dinamika tersebut menjadi bagian dari proses pencarian identitas generasi muda di tengah terbukanya ruang kebebasan menjelang keruntuhan Orde Baru.
Angkatan SMA lulusan 1998 seperti menjadi generasi yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Mereka menjalani masa remaja di bawah stabilitas Orde Baru yang mulai merapuh, lalu memasuki usia dewasa tepat ketika fondasi kekuasaan itu benar-benar runtuh.
Krisis moneter membuat banyak keluarga kehilangan kestabilan ekonomi dan memaksa sebagian lulusan menunda pendidikan tinggi atau mencari alternatif lain yang lebih murah. Di saat bersamaan, generasi ini juga menjadi saksi langsung kerusuhan, ketidakpastian politik, dan perubahan sosial yang membentuk cara pandang mereka terhadap negara dan kehidupan.
Generasi 1998 juga menjadi jembatan antara dunia analog dan digital. Mereka tumbuh tanpa ketergantungan terhadap telepon pintar, tetapi mulai mengenal internet, pager, dan warnet sebagai alat komunikasi baru.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan politik, mereka belajar memahami bahwa kekuasaan dapat runtuh dan masyarakat dapat bergerak mengubah sejarah.
Pengalaman itu membuat angkatan 1998 memiliki karakter khas, yakni cepat beradaptasi, kritis terhadap otoritas, namun tetap memiliki kenangan kuat terhadap masa ketika kehidupan berjalan lebih sederhana. Saya memandang, generasi ini adalah saksi hidup tentang bagaimana sebuah bangsa memasuki gerbang reformasi dengan segala harapan kekacauan, dan pelajaran yang menyertainya.
Posting Komentar untuk "Catatan #31: 1998"