
Tak dapat dimungkiri, banyak orang beranggapan bahwa masa sekolah, khususnya SMA, merupakan salah satu momen paling indah dalam fase kehidupan. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Pada masa tersebut, manusia mengalami perkembangan fisik dan psikis yang pesat. Namun, masa SMA bukanlah puncak perkembangan manusia, sebab kematangan justru terbentuk melalui perjalanan hidup yang panjang.
Perkembangan manusia berjalan beriringan dengan perkembangan bahasa. Kata-kata, ungkapan, dan tata bahasa terus mengalami perubahan seiring dengan pengalaman serta interaksi sosial para penuturnya. Ketika duduk di bangku SD dan SMP, misalnya, kita mungkin pernah merasa kaku saat mengucapkan kata tertentu, kendati kata itu sudah akrab di telinga.
Kata cinta bisa menjadi salah satu contohnya. Mengungkapkan cinta secara langsung kepada seseorang, terutama kepada lawan jenis, bukan perkara mudah bagi anak-anak. Beruntung, manusia memiliki beragam cara untuk menyampaikan perasaan. Sesuatu yang terasa kaku ketika diucapkan secara langsung dapat diungkapkan melalui media lain, seperti lagu, puisi, dan sajak.
Ketika memasuki bangku SMA, kekakuan itu perlahan mencair. Kata cinta mulai lebih mudah diucapkan, sementara keberanian mengungkapkan perasaan tumbuh seiring dengan peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja. Dari sinilah kisah cinta dan asmara remaja bermula.
Hal yang sebelumnya terasa sulit diungkapkan perlahan menjadi sesuatu yang lumrah. Anak-anak SMA, termasuk alumni SMANSA 98, bahkan sudah ada yang berani berangkat ke sekolah berdua dengan orang yang disukainya. Bagi mereka yang sedang dimabuk asmara, sekolah terkadang seolah-olah hanya menjadi milik para siswa yang sudah memiliki pacar.
Namun, bukan hanya kata-kata yang berkaitan dengan perasaan yang mengalami perubahan dalam penggunaannya. Ada juga kata-kata yang mengalami pergeseran makna, bahkan memperoleh pengertian baru ketika digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu.
Salah satunya adalah mabal, sebuah kata yang dalam pengalaman kebahasaan masyarakat Sunda perdesaan saya kenal berkaitan dengan tindakan mengambil jalan pintas atau melewati jalur yang tidak biasa dilalui. Dalam bahasa Inggris, pengertian ini dapat didekatkan dengan shortcut, yakni jalan pintas. Secara harfiah, seseorang yang mabal tetap memiliki tujuan yang hendak dicapai. Ia hanya memilih jalur berbeda untuk sampai ke tempat tujuan, bukan mengganti tujuan itu sendiri.
Bagi anak-anak SMA pada era 1990-an, kata mabal belum selalu dipahami dalam pengertian yang kini lebih populer, yaitu bolos sekolah. Dalam penggunaan tertentu, kata itu masih menyimpan pengertian tentang mengambil jalan pintas atau menyimpang dari jalur yang biasa dilalui. Meskipun demikian, ungkapan seperti “Arek mabal, ah!” sudah dapat digunakan sebagai celetukan seorang siswa yang ingin pulang lebih cepat atau tidak mengikuti pelajaran.
Makna mabal mulai bergeser. Beberapa tahun kemudian, mabal semakin akrab digunakan untuk menyebut tindakan mangkir dari sekolah. Seorang siswa bisa saja berangkat dari rumah dengan seragam lengkap, tetapi tidak sampai ke ruang kelas. Tujuan perjalanannya berubah di tengah jalan.
Sebagian alumni SMANSA 98 mungkin memiliki kenangan yang cukup akrab terhadap makna baru mabal. Dari rumah mereka berpamitan untuk pergi ke sekolah, tetapi di tengah perjalanan, rencana bisa berubah. Ada yang melakukannya atas inisiatif sendiri, ada pula yang mengikuti ajakan teman. Godaan untuk menghabiskan waktu bersama kawan terkadang terasa lebih menarik daripada mengikuti mata pelajaran yang dianggap membosankan.
Tujuan mabal pun beragam: Capitol, Shoping Center, atau pergi ke tempat biliar. Ada juga yang menghabiskan waktu di tempat permainan dingdong, permainan elektronik yang populer pada masa itu. Meskipun telah memanfaatkan teknologi digital, dingdong masih terasa lebih konvensional jika dibandingkan dengan Nintendo yang dikenal sebagai perangkat permainan rumahan.
Sebagian alumni juga mungkin masih mengingat warung Ceu Empat di pinggir Jalan R.H. Didi Sukardi. Warung ini menjadi salah satu tempat persinggahan siswa yang ingin menghindari kegiatan belajar. Letaknya berada di ujung gang yang dapat menjadi jalur alternatif menuju jalan utama. Siswa sebenarnya tidak harus mengikuti jalan yang memutar di sekitar lapangan; mereka cukup berbelok ke gang yang berjarak sekitar lima meter dari gerbang sekolah.
Dalam pengertian awal, tindakan mengambil jalur alternatif itulah yang dapat disebut mabal. Akan tetapi, bagi siswa yang menghabiskan waktu atau bersemedi sejak pukul 07.00 hingga 13.00 di warung, maknanya telah berubah. Bukan lagi sekadar mengambil jalan berbeda, melainkan mengalihkan tujuan dari sekolah ke warung Ceu Empat.
Kisah tentang mabal memperlihatkan bahwa perubahan makna kata tidak selalu berlangsung melalui proses yang rumit. Pengalaman sehari-hari, kebiasaan kelompok, dan konteks pemakaian dapat membuat sebuah kata memperoleh pengertian baru.
Dalam kajian semantik, perubahan makna dapat berupa penyempitan, perluasan, penghalusan atau ameliorasi, maupun pengasaran atau peyorasi. Kata yang semula menunjuk pada suatu tindakan secara harfiah bisa berkembang menjadi istilah untuk tindakan lain yang dianggap memiliki kemiripan tertentu.
Dalam pergaulan siswa, misalnya, tindakan menyimpang dari jalur yang biasa dilalui dapat menjadi kiasan bagi tindakan menyimpang dari tujuan semula. Uniknya, kata mabal telah diserap menjadi Bahasa Indonesia dan ada di dalam KBBI dengan pengertian bolos sekolah.
Selain perubahan makna, kehidupan berbahasa pada era 1990-an juga memperlihatkan perkembangan kriptolek, yaitu ragam bahasa yang digunakan kelompok tertentu untuk menyamarkan makna dari orang di luar kelompok tersebut. Di Sukabumi, salah satu ragam yang dikenal masyarakat adalah bahasa sandi atau bahasa Widal. Dalam praktiknya, kata-kata diubah melalui pola tertentu yaitu dengan mengganti atau mensubsitusi huruf.
Pola tersebut tidak selalu menggunakan kode yang rumit. Bagi orang yang sudah memahami aturannya, kata-kata tersebut justru mudah dikenali. Nama Widal sendiri merupakan kata sandi dari Tipar, kawasan yang menjadi salah satu tempat berkembangnya penggunaan bahasa sandi di Kota Sukabumi.
Kata pabal merupakan salah satu contoh yang dikenal dalam ragam bahasa sandi tersebut. Kata ini digunakan sebagai bentuk sandi dari dahar, yang berarti makan. Bagi anak-anak dan remaja di perkotaan maupun di sejumlah lingkungan perkampungan, bahasa sandi pernah menjadi bagian dari pergaulan sehari-hari. Saya sendiri sudah mengenal dan dapat menuturkan kata dalam ragam ini ketika duduk di kelas lima sekolah dasar.
Dalam pergaulan anak-anak dan remaja, bahasa sandi terkadang digunakan untuk menyampaikan kalimat yang dianggap tabu atau tidak pantas diucapkan secara terbuka. Dengan menyamarkan kata-kata, penutur berharap orang lain tidak segera memahami maksud pembicaraan mereka.
Akan tetapi, strategi itu tidak selalu berhasil. Orang yang sudah memahami pola bahasa sandi dapat langsung menangkap maknanya, bahkan membalas dengan ragam bahasa yang sama. Situasi semacam ini memperlihatkan bahwa bahasa sandi bukan semata-mata alat untuk menyembunyikan pesan, melainkan juga penanda keanggotaan dalam suatu kelompok pergaulan.
Sayangnya, penggunaan bahasa sandi atau Widal pada era 1990-an tidak tersebar merata. Ragam ini lebih banyak berkembang di sekitar pusat Kota Sukabumi dan dikenal oleh anak-anak serta remaja yang bersekolah di wilayah perkotaan. Di kawasan perbatasan, seperti Cipeueut, Wangunreja, dan sejumlah wilayah Lebak, tidak semua orang memahami tuturan tersebut.
Di kawasan Lebak; Pangleseran, Bojong, dan sekitarnya, bahasa sandi antara lain menyebar melalui interaksi para sopir angkutan kota. Sebelum melanjutkan perjalanan, sebagian sopir biasa ngetem di Terminal Angkot Tipar. Interaksi dengan sopir lain maupun calo angkutan menjadi salah satu ruang perjumpaan yang memungkinkan ragam bahasa itu dikenal di wilayah lain.
Di kalangan alumni SMANSA 98, pengetahuan tentang bahasa sandi juga tidak dimiliki secara merata. Mereka yang berasal dari kawasan perkotaan, terutama sekitar Tipar, cenderung lebih akrab dengan ragam tersebut. Sementara itu, bagi sebagian besar remaja pada masa itu, bahasa gaul atau slang terasa lebih populer.
Pengaruh bacaan majalah, musik, dan gaya hidup yang diperkenalkan melalui MTV turut membentuk kosakata pergaulan mereka. Kata-kata seperti kemek, ma-em, dan isi bensin menjadi pilihan ungkapan yang lebih mudah dijumpai dalam percakapan sehari-hari.
Perbedaan ini dapat dipahami dari cara kedua ragam bahasa tersebut menyebar. Bahasa sandi tumbuh melalui interaksi dalam kelompok-kelompok tertentu, sedangkan bahasa gaul memperoleh jangkauan yang lebih luas melalui media cetak dan elektronik. Keduanya sama-sama memperlihatkan kreativitas anak muda dalam mengolah bahasa, tetapi berkembang melalui jalur sosial yang berbeda.
Mabal dan pabal telah membawa kita pada dua pengalaman kebahasaan yang menarik. Mabal mengingatkan kita bahwa sebuah kata dapat bergeser dari pengertian mengambil jalan pintas menjadi istilah untuk bolos sekolah.
Sementara itu, pabal memperlihatkan bagaimana sebuah kata dapat berubah bentuk melalui pola penyandian yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Keduanya bukan hanya jejak kosakata masa lalu, melainkan bagian dari ingatan kolektif tentang sekolah, pergaulan, dan kehidupan remaja di Sukabumi pada era 1990-an.
Bahasa memang tidak pernah benar-benar kaku. Ia bergerak mengikuti manusia, berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain, serta memperoleh makna baru ketika digunakan dalam pengalaman yang berbeda. Kata-kata yang dahulu hanya dipahami oleh sekelompok siswa bisa menjadi penanda sebuah generasi.
Dan, ketika kita mengingat kembali mabal dan pabal dapat melahirkan kembali kenangan tentang masa ketika sekolah, persahabatan, dan kenakalan remaja menjadi bagian dari cerita yang terus hidup dalam ingatan.
Posting Komentar untuk "Catatan #42: Mabal dan Pabal"