Catatan #6: Ada Jejak Sepatu di Dinding Kelas


Salah satu kebiasaan baik di SMANSA pada tahun 1996 adalah memberikan penghargaan kepada kelas-kelas terbaik: bersih, rapi, dan kreatif. Saat upacara bendera, setelah amanat pembina upacara, biasanya dibacakan urutan kelas terbaik. Perwakilan kelas yang memperoleh penghargaan kemudian maju ke depan dan menerima hadiah berupa sebuah jam dinding.

Oh ya, tentang susunan dan lamanya upacara bendera pada zaman Orde Baru, rasanya mirip dengan upacara kenegaraan. Belum cukup dengan amanat pembina upacara, acara masih harus diakhiri dengan pengumuman-pengumuman. Durasi pengumuman itu bahkan bisa lebih panjang daripada wawaran, atau pemberitaan tentang kematian seseorang yang biasa disampaikan DKM sebuah masjid.

Kebahagiaan memang terlihat dari wajah warga kelas yang menerima jam dinding sebagai hadiah. Persoalannya bukan pada ukuran atau harga sebuah jam dinding. Sejak dahulu, manusia telah mengenal cara untuk memperoleh kemuliaan sebagai bagian dari upaya membangun harga diri. Ada orang yang rela tidak dibayar atau menerima upah asalkan kemuliaan dan harga dirinya tidak tercabut dari dirinya.

Menjadi kelas terbersih di antara puluhan kelas di SMANSA bukan perkara mudah. Bahkan sangat sulit diwujudkan oleh kelas-kelas yang para penghuninya sedang berada dalam masa transisi, salah satu tahap perkembangan fisik dan psikis dari masa kanak-kanak menuju remaja dan kemudian kedewasaan. Pada masa transisi itu, ada kalanya seorang remaja merasa dirinya sudah benar-benar dewasa.

Kenakalan remaja salah satunya diperlihatkan melalui kebiasaan membuat coretan di dinding sekolah. Sebenarnya, kurang tepat jika semuanya disebut kenakalan. Bisa jadi itu adalah kreativitas yang salah penyaluran.

Tidak mengherankan jika toilet-toilet sekolah biasanya dipenuhi berbagai coretan dengan nuansa khas. Vandalisme semacam ini sulit dihindari karena kebiasaan mencoret-coret telah dikenal sebagian anak sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Objek pelampiasannya bukan hanya dinding, tetapi juga meja dan kursi. Jika ditarik lebih jauh ke dalam sejarah perkembangan aksara dan peradaban manusia, kebiasaan mencoret ternyata telah diwariskan leluhur kita. Di Gua Lascaux, Prancis, misalnya, manusia purba meninggalkan lukisan pada dinding gua.

Hari ini, lukisan tersebut dipandang sebagai peninggalan arkeologis yang sangat berharga. Pada masa ketika lukisan itu dibuat, mungkin saja coretan tersebut hanya dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan wajar. Bisa juga sebagian masyarakat pemburu pada masa itu menganggapnya aneh.

Di kelas 2.1, pada dinding bagian belakang, muncul jejak sepatu. Saya dan beberapa teman sekelas tidak terlalu memedulikannya. Bisa saja jejak itu muncul karena ketidaksengajaan.

Warga kelas tidak menggubrisnya. Jejak tersebut tidak dibersihkan, bahkan hampir tidak tersentuh sama sekali. Letaknya cukup jelas, tepat di bawah sebuah atlas.

Entah karena dianggap sebagai inspirasi atau karena sesuatu yang buruk memang mudah menular, keesokan harinya muncul jejak sepatu lain yang mengikuti jejak sebelumnya. Polanya seperti jejak seseorang yang sedang berjalan menaiki dinding.

Mayoritas warga kelas kemudian ikut berpartisipasi. Satu per satu menyumbangkan jejak sepatu masing-masing.

Maka sempurnalah dinding bagian belakang kelas 2.1. Dinding itu dipenuhi jejak-jejak sepatu yang tersusun acak dan sulit dikenali satu per satu.

Saat pelajaran Bu Agnes, sebuah satire terlontar dari beliau, “Sungguh, kelas yang inspiratif...”

Kami tahu, itu bukan pujian. Kalimat tersebut merupakan sindiran terhadap jejak-jejak sepatu yang memenuhi dinding kelas.

Di sini saya kemudian melihat persoalan yang lebih besar. Kita selalu mengaku sebagai manusia beriman, tetapi perilaku kita kadang justru bertolak belakang dengan sikap yang semestinya ditampilkan oleh manusia beriman.

Atau barangkali perilaku para siswa itu dapat pula dibaca sebagai bentuk kepura-puraan, menyembunyikan kebaikan dengan melakukan kekeliruan.

Ah, sungguh dekat perilaku semacam ini dengan kisah para wali dan orang-orang yang dikasihi Tuhan, yang dalam sejumlah kisah justru menyembunyikan kebaikannya melalui tindakan yang membuat orang lain keliru dalam menilai mereka.

Satu hingga dua bulan lamanya, kelas tidak kunjung kembali ke kondisi semula. Tetap kotor dan mendekati kondisi lorong-lorong penguk dan kumuh yang biasa saya lihat ketika memasuki gang-gang sempit di antara himpitan gedung.

Guru-guru sudah memberikan khotbah dan nasihat. Namun, semua itu belum membuat warga kelas benar-benar menyadari kekeliruannya. Para siswa justru memiliki tafsir yang berbeda terhadap jejak sepatu tersebut.

Bagi mereka, itu adalah kreativitas. Sebuah bentuk ekspresi dan kemerdekaan diri yang tidak bisa begitu saja dibenturkan dengan aturan yang mereka anggap sudah mapan.

Jika bukan karena itu, mungkin jiwa-jiwa pemberontak tersebut lahir sebagai reaksi terhadap sistem yang mulai lapuk. Sebuah sistem yang serba harus seragam: serupa, sewarna, separtai, bahkan sepemikiran.

Segalanya harus diatur dan diselesaikan melalui kesepakatan bersama. Padahal, masa transisi tidak selalu mau berkompromi dengan keadaan semacam itu. Masa transisi adalah masa ketika seseorang ingin mengekspresikan dirinya tanpa terus-menerus diatur pihak lain.

Masa transisi adalah masa untuk berbeda dari kemapanan.

Padahal sekolah sebenarnya telah menyediakan ruang ekspresi bagi para siswa melalui majalah dinding bertajuk Papyrus Creatio. Di sanalah karya-karya terbaik siswa dipajang dan dipamerkan. Namun, ruang kreativitas itu memang terlalu sempit untuk menampung kreativitas dari triliunan sel otak manusia yang memiliki keinginan, sensasi, dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.

Atau bisa jadi, kreativitas para siswa memang tidak cukup terlampiaskan di sana. Bagi mereka, ruang kreativitas jauh lebih luas daripada sekadar sebuah papan kecil bernama Papyrus Creatio.

Sekolah memiliki regulasi dan aturan yang dibangun berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun. Maka, untuk menghentikan kreativitas liar warga kelas 2.1, tiga bulan setelah jejak sepatu pertama muncul di dinding, kelas 2.1 justru dinobatkan sebagai kelas terbersih dan berhak menerima sebuah jam dinding.

Kebijakan ini bisa dikatakan kontroversial.

Saya berpikir sederhana saja, penyematan gelar kelas terbersih dan pemberian hadiah tersebut sebenarnya merupakan sebuah sindiran halus. Sebuah ironi yang cukup menohok warga kelas 2.1, meskipun tetap disambut dengan tepuk tangan meriah.

Dan langkah sekolah itu ternyata manjur. Kesadaran untuk membersihkan kelas muncul dari warga kelas sendiri. Para siswa mengumpulkan uang untuk membeli cat. Seminggu kemudian, dinding kelas kembali bersih.

Peristiwa vandalisme pada dinding kelas, aksi mencoret bangku, hingga kebiasaan menyemarakkan toilet dengan tulisan vulgar ternyata juga menginspirasi sekolah untuk mengambil langkah baru.

Sekolah kemudian memberikan keleluasaan kepada masing-masing kelas untuk menata dan melukis dinding kelas sesuai dengan keinginan dan kreativitas mereka.

Memang, bentuk dan jenis lukisan yang kemudian muncul di dinding setiap kelas sering kali ditentukan oleh “dominasi” segelintir siswa yang memiliki pengaruh kuat terhadap teman-temannya. Tetapi setidaknya, sekolah mulai memosisikan diri sebagai lembaga yang mampu membangunkan sekaligus menyalurkan bakat dan minat siswa.

Jejak sepatu di dinding kelas 2.1 akhirnya hilang tertutup cat.

Namun, saya kira jejak itu tidak benar-benar hilang. Ia tinggal sebagai kenangan tentang masa ketika kami belajar mengenali batas antara kreativitas dan kekeliruan. Bahwa sesuatu yang dianggap kenakalan oleh orang dewasa kadang-kadang merupakan bentuk ekspresi yang belum menemukan ruangnya.

Tugas sekolah barangkali bukan hanya menghapus jejak-jejak itu, tetapi juga mencari tahu mengapa seorang anak merasa perlu meninggalkan jejak sepatunya di dinding.

Posting Komentar untuk "Catatan #6: Ada Jejak Sepatu di Dinding Kelas"